Situbondo//TintaPos.Com//- Hal tersebut disampaikan dalam sosialisasi pemajuan mindset OPD inovatif di Pendopo Rakyat Situbondo, Rabu (8/4/2026).
Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, menyoroti ketimpangan antara produksi dan kebutuhan telur di wilayahnya yang dinilai menjadi salah satu penyebab fluktuasi harga di pasaran.
Bupati Rio mengungkapkan, produksi telur di Situbondo saat ini hanya mencapai sekitar 3,5 ton per hari, sementara kebutuhan masyarakat menembus 17 ton per hari.
“Artinya ada selisih yang cukup besar. Ini yang membuat harga telur naik turun,” ujar Bupati.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mendorong solusi berbasis rumah tangga dengan mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan untuk beternak ayam petelur skala kecil.
Menurut dia, jika setiap rumah tangga memiliki 10 hingga 20 ekor ayam petelur, maka kebutuhan telur bisa dipenuhi secara mandiri tanpa bergantung penuh pada pasar.
Ia juga membuka peluang intervensi pemerintah daerah melalui program bantuan, seperti hibah kandang ayam petelur kepada masyarakat.
“Kita sedang diskusikan kemungkinan adanya bantuan kandang ayam petelur, supaya masyarakat bisa produksi sendiri,” katanya.
Selain telur, Bupati Rio juga menyinggung fluktuasi harga komoditas lain seperti cabai dan daging sapi yang kerap terjadi akibat ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan.
Ia menilai, pendekatan inovatif berbasis kebutuhan lokal harus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga.
“Langkah kecil seperti ini bisa berdampak besar kalau dilakukan bersama-sama,” ujarnya.
Salah satu contoh yang sudah berjalan adalah gerakan menanam cabai di pekarangan rumah yang dilakukan Tim Penggerak PKK bekerja sama dengan Bank Indonesia sebagai langkah mitigasi inflasi.
“Tanpa riset, inovasi tidak akan kuat. Ini yang harus mulai kita benahi,” ucapnya.
Bupati menegaskan, upaya inovasi tersebut harus didukung dengan riset yang memadai agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
(DO’A)






















