NTB //TintaPos.Com/ Berikut adalah analisis mendalam dan terstruktur mengenai fenomena penolakan masyarakat terhadap pengambilalihan tanah untuk proyek pemerintah, yang dilihat dari berbagai perspektif (sosial, ekonomi, hukum, dan manajemen):
Analisis Perspektif Ekonomi: Ketidakseimbangan Nilai Tukar dan Risiko
Inti permasalahan ekonomi seringkali terletak pada asimetri informasi pasar dan kegagalan dalam valuasi aset.
– Valuasi yang tidak realistis: Pemerintah sering menggunakan harga dasar tanah (nilai jual objek pajak/NJOP) sebagai acuan ganti rugi, sementara harga pasar riil bisa jauh lebih tinggi akibat spekulasi atau pembangunan infrastruktur sebelumnya. Masyarakat melihat ini sebagai kerugian modal yang nyata.
– Hilangnya “aset produktif” vs “aset pasif”: Bagi petani atau pelaku usaha mikro, tanah adalah alat produksi yang menghasilkan arus kas berkelanjutan. Ganti rugi sekalipun seringkali berupa uang tunai yang habis digunakan untuk konsumsi jangka pendek, bukan diinvestasikan kembali untuk menciptakan sumber penghidupan baru.
Analisisnya: masyarakat menolak karena membandingkan “pendapatan seumur hidup” dengan “ganti rugi satu kali”.
– Biaya transisi: Pemerintah seringkali hanya membayar harga tanah, namun mengabaikan biaya pindah, kehilangan pendapatan selama masa transisi, dan penurunan nilai sosial-ekonomi di lokasi relokasi (misalnya: lokasi baru jauh dari pasar atau lahan pertanian kurang subur).
Analisis Perspektif Sosial-Budaya: Identitas dan Modal Sosial
Tanah dalam banyak masyarakat Indonesia bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan konstruksi sosial dan simbol identitas.
– Modal sosial yang terancam: Masyarakat membangun jaringan sosial (kerabat, tetangga, akses pekerjaan) selama bertahun-tahun di lokasi tersebut. Pindah berarti kehilangan “modal sosial” ini, yang sulit digantikan dengan uang.
– Nilai spiritual dan kultural: Tanah seringkali dikaitkan dengan makam leluhur, tempat ibadah tradisional, atau ruang ritual. Pelepasan tanah dianggap mengganggu keseimbangan kosmis atau melanggar norma adat, yang menimbulkan resistensi psikologis yang kuat.
– Dinamika kelompok: Seringkali terjadi efek “domino” atau solidaritas kelompok. Jika satu keluarga menolak, tetangga lain cenderung ikut menolak sebagai bentuk dukungan sosial atau karena ketakutan akan isolasi sosial jika mereka setuju sendirian.
Analisis Perspektif Hukum dan Kelembagaan: Ketidakpastian dan Kesenjangan Hukum
– Dualisme hak tanah: Adanya tumpang tindih antara hak hukum formal (sertifikat hak milik) dengan hak adat (tanah ulayat). Pemerintah cenderung hanya mengakui hak formal, sehingga pemilik tanah adat merasa hak asasi mereka dilanggar dan tidak mendapatkan kompensasi.
– Kelemahan penegakan aturan: Meskipun ada undang-undang yang mengatur pengadaan tanah (seperti UU No. 2 Tahun 2012), implementasinya di lapangan seringkali tidak konsisten. Ketidakjelasan alur hukum, birokrasi yang berbelit, dan potensi korupsi dalam penentuan harga ganti rugi menciptakan ketidakpercayaan publik.
– Persepsi “Pemaksaan”: Meskipun disebut pembelian, masyarakat sering merasakan adanya unsur paksaan karena status proyek sebagai “kepentingan umum”. Hal ini memicu resistensi psikologis karena merasa hak milik mereka tidak dihormati secara mutlak.
Analisis Perspektif Komunikasi dan Tata Kelola: Defisit Partisipasi
– Pendekatan top-down: Seringkali proyek sudah diputuskan di tingkat pusat/atas, dan masyarakat hanya diberi tahu (informasi sepihak), bukan dilibatkan dalam perencanaan (partisipasi). Hal ini membuat masyarakat merasa tidak dihargai dan tidak memiliki rasa memiliki terhadap proyek tersebut.
– Komunikasi yang buruk: Informasi tentang manfaat proyek, detail teknis, dan skema kompensasi seringkali disampaikan secara tidak jelas atau terlambat. Kekosongan informasi ini kemudian diisi oleh rumor atau desas-desus negatif yang memperkeruh suasana dan meningkatkan penolakan.
Kesimpulan Analitis
Penolakan masyarakat bukanlah sekadar perilaku “kepala batu” atau materialistis semata, melainkan respons rasional terhadap risiko yang dirasakan (ekonomi, sosial, dan hukum) dan ketidakadilan prosedural yang terjadi. Masalah ini muncul ketika pemerintah lebih fokus pada aspek teknis dan waktu penyelesaian proyek, namun mengabaikan aspek kemanusiaan, budaya, dan keadilan distributif dalam penggantian kerugian.
Solusi jangka panjang memerlukan pergeseran dari pendekatan “akuisisi tanah” menjadi “pemberdayaan masyarakat”, di mana kompensasi tidak hanya berupa uang, tetapi juga jaminan mata pencaharian, dan proses yang benar-benar partisipatif serta transparan.
Penulis Adim Sekjen P-MAKI NTB ✍️✍️
























