LUMAJANG //TintaPos.Com// – Masyarakat Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, kembali mempertanyakan rencana relokasi yang digulirkan pemerintah daerah pasca insiden Kali Regoyo pada Senin (23/2/2026). Warga menilai hingga kini belum ada langkah konkret, padahal wacana relokasi telah mencuat sejak erupsi besar Gunung Semeru pada 2021.
Salah satu warga yang menyuarakan keraguan tersebut adalah Ahmad Samiludin (54), relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Korwil Jawa Timur. Ahmad yang hampir setiap hari menyeberangi Kali Regoyo bersama relawan CB Motor dan warga tempat, mengharapkan pemerintah menghadirkan solusi yang tepat dan cepat bagi warga Sumberlangsep.
“Pemerintah sudah sejak beberapa tahun lalu merencanakan relokasi sekitar 154 kepala keluarga atau lebih dari 500 warga Sumberlangsep, tapi hingga kini belum terealisasi. Warga memerlukan solusi yang jelas, bukan sekedar wacana berulang, tepat dan cepat,” ungkap Ahmad dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026).
Dusun Sumberlangsep kini masuk dalam zona merah baru yang ditetapkan pemerintah daerah setelah erupsi besar Semeru pada akhir tahun 2025 lalu. Kawasan tersebut dinilai berisiko tinggi terdampak aliran lahar dan awan panas, terutama melalui jalur Kali Regoyo yang berhulu di puncak Semeru. Selain itu, jembatan penghubung utama warga telah hancur diterjang lahar beberapa bulan lalu, sehingga akses masyarakat menjadi terbatas dan rawan terisolasi.
Ahmad Samiludin yang tinggal di Desa Sumberwuluh, masih satu kecamatan dengan Sumberlangsep, menegaskan bahwa warga pada prinsipnya mengutamakan keselamatan. Namun, menurutnya, relokasi harus disertai kesiapan matang, mulai dari lahan, hunian tetap, hingga fasilitas umum penunjang kehidupan.
Relawan UAR yang tinggal paling dekat dengan Gunung Semeru itu, aktif memantau perkembangan aktivitas vulkanik sejak erupsi November 2025. Ia kerap membantu evakuasi serta distribusi bantuan di wilayah Candipuro dan sekitarnya, bahkan rutin mengirimkan video pemantauan kondisi Semeru kepada jaringan relawan.
Sementara itu, dalam pertemuan bersama warga di Balai Desa Jugosari, Jumat (27/2), Pemerintah Kabupaten Lumajang di bawah kepemimpinan Bupati Indah Amperawati menyatakan bahwa relokasi dilakukan demi keselamatan warga, terutama keluarga yang memiliki anak sekolah mengingat peningkatan risiko bencana.
Pemerintah daerah telah menyiapkan lahan relokasi warga Dusun Sumberlangsep di belakang Balai Desa Jugosari. Keterangan bupati kepada media menyebutkan, langkah tersebut diambil guna menjamin keselamatan warga dalam jangka panjang.
“Lahan sudah tersedia seluas 1,5 hektar. Nanti akan segera kita atur agar mencukupi untuk pembangunan hunian warga Sumberlangsep yang terdampak erupsi Semeru,” tutur Bupati Lumajang, Jum’at.
Meski demikian, sebagian warga berharap proses relokasi dilakukan secara transparan dan partisipatif. Mereka menginginkan dialog terbuka serta kepastian tahapan pelaksanaan agar tidak sekadar menjadi rencana yang terus berulang tanpa realisasi.
Relawan UAR pun berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang tepat, cepat, dan berpihak pada keselamatan sekaligus keberlangsungan hidup warga Sumberlangsep, sembari tetap memperhatikan kebutuhan mendesak di lokasi saat ini, termasuk akses infrastruktur, hunian sementara, dan fasilitas ibadah.
Hingga kini, aktivitas Gunung Semeru masih terus dipantau oleh berbagai pihak. Warga di sekitar kaki gunung diimbau tetap waspada, terutama saat terjadi hujan deras yang berpotensi memicu aliran lahar di sepanjang sungai berhulu di puncak Semeru. Beberapa warga dilaporkan pernah terjebak di tengah Kali Regoyo saat banjir lahar dingin tiba-tiba datang. [AM]






















