Situbondo //TintaPos.Com// – Dalam waktu persiapan sekitar satu bulan, sebanyak 500 pohon bonsai berhasil dikumpulkan, berasal dari berbagai wilayah seperti Bengkulu, Sukabumi, Bogor, Jakarta, Bali, Lombok, Bekasi, Madura, Lumajang, hingga Pasuruan.
Presiden Rumah Bonsai Indonesia (RUBI), Prof Zudan Arif Fakrulloh, mendorong Kabupaten Situbondo menjadi ‘the city of bonsai’ atau kota bonsai nasional. Hal tersebut disampaikan dalam Festival Bonsai Nusantara RUBI Bupati Cup 2026 di Situbondo, Jumat (10/4/2026) malam.
Dalam kesempatan tersebut, Prof Zudan Arif mengapresiasi langkah Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio), yang kembali menghidupkan festival bonsai setelah vakum selama sekitar 10 tahun sejak terakhir digelar pada 2016.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Mas Rio yang telah menghidupkan kembali Festival Bonsai ini. Setelah satu dekade vakum, kini bisa kembali terselenggara dengan baik,” ujar Prof Zudan Arif.
“Ini menunjukkan Situbondo memiliki daya tarik yang tidak terbantahkan. Para pegiat bonsai dari berbagai daerah datang dan mengirimkan karyanya ke sini,” katanya.
Ia menilai, kebangkitan festival ini menjadi momentum penting untuk mengangkat potensi bonsai Situbondo yang dinilai sangat besar. Hal itu terbukti dari antusiasme peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, besarnya potensi tersebut membuka peluang bagi Situbondo untuk menjadi pusat bonsai nasional, bahkan destinasi utama bagi pecinta bonsai tanpa harus pergi ke luar negeri seperti Taiwan, China, maupun Jepang.
“Ke depan, orang tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Cukup datang ke Situbondo untuk menikmati keindahan bonsai, melihat, hingga membelinya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof Zudan Arif menegaskan bahwa bonsai asal Situbondo memiliki nilai ekonomi tinggi dan sangat layak jual. Ia bahkan mengaku sempat menawar seluruh koleksi bonsai dalam festival tersebut hingga mencapai Rp1,2 miliar.
“Namun tidak ada yang bersedia melepas. Itu menunjukkan nilai bonsai di sini sangat tinggi dan prospeknya besar,” ucapnya.
Berbagai jenis bonsai unggulan ditampilkan dalam festival tersebut, di antaranya Sancang, Santigi, Anting Putri, Waru, dan Beringin.
“Di masyarakat sebenarnya banyak sekali bonsai berkualitas. Ini bisa menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang perlu terus dikembangkan,” pungkasnya.
Prof Zudan Arif menambahkan, potensi bonsai di tengah masyarakat sering kali belum disadari secara optimal. Padahal, jika dikelola dengan baik, bonsai dapat menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang menjanjikan bagi daerah.(DO’A)






















