Jember //TintaPos.Com// – Debu tipis terangkat setiap roda kayu berputar semakin cepat, derap kaki kuda terdengar berat namun teratur, menarik dokar melaju cepat di lintasan. Roda kayu berputar tanpa henti, berpikir bahwa kendaraan tradisional selalu identik dengan perjalanan lambat.
Dokar tak lagi sekadar alat angkut masa lalu. Melalui aduan yang memacu adrenalin, kendaraan tradisional itu kembali dihadirkan sebagai pengingat sejarah transportasi yang pernah menghidupi masyarakat.
Dalam dua kali perjalanan, kecepatan justru menjadi cara baru menghadirkan kembali ingatan lama tentang moda transportasi masa lalu. Sekilas, aduan dokar memang tampak seperti hiburan semata.
Namun dibalik itu, dokar bukan sekedar tontonan, melainkan simbol perjalanan sejarah masyarakat dalam bertransportasi.
“Kami di Pordasi tidak hanya konsentrasi ke atlet saja. Tapi bagaimana mengenalkan kuda menjadi satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat,” papar Rahaditha Viraq Prakasa Pengurus Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Jember.
Menurutnya, kendaraan bertenaga kuda ini pernah menjadi bagian penting kehidupan sehari-hari. Sebelum kendaraan mendominasi jalanan, dokar menjadi sarana utama mengangkut orang maupun barang.
Ia hadir di pasar, jalan desa, hingga pusat kota, menghubungkan aktivitas ekonomi dan sosial warga. Kini, fungsi tersebut memang sudah banyak tergantikan.
Namun melalui aduan dokar, keberadaannya kembali diingatkan. Radit, sapaan akrab Rahaditha ini menjabarkan, aduan dokar juga menunjukkan bahwa mengendalikan kendaraan tradisional memerlukan keterampilan khusus.
Kusir harus memahami karakter kuda, menjaga ritme langkah, sekaligus memastikan gerobak tetap stabil. Harmoni antara tenaga kuda dan kendali manusia menjadi kunci utama.
Tak hanya kemampuan kusir, kondisi dokar juga menentukan performa. Berat rangka, putaran roda, hingga keseimbangan beban berpengaruh terhadap kecepatan. Detail teknis tersebut menunjukkan bahwa dokar bukan kendaraan sederhana tanpa perhitungan.
Ia juga menilai aduan dokar memiliki peran penting sebagai ruang pelestarian budaya. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan semata perlombaan, melainkan cara mengenalkan kembali transportasi tradisional kepada masyarakat modern.
“Dokar ini bagian dari sejarah transportasi. Lewat aduan seperti ini, masyarakat bisa kembali melihat bahwa kendaraan tradisional masih punya nilai dan cerita,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan dokar perlu terus diberi ruang agar tidak sekadar menjadi kenangan.
Pada akhirnya, derap kuda dan putaran roda dokar bukan hanya soal adu cepat. Justru menjadi pengingat bahwa transportasi tradisional memiliki nilai sejarah dan identitas budaya yang layak dijaga, agar jejak masa lalu tetap hidup di tengah laju zaman yang terus berubah.
Dengan menghadirkannya dalam event olahraga maupun budaya, generasi muda diharapkan mengenal fungsi dan filosofi kendaraan tersebut, sekaligus memahami hubungan erat antara manusia, kuda, dan lingkungan pada masa lampau.(pal)






















