Banyuwangi //Tintapos.com// – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar di Taman Blambangan, Banyuwangi, Jumat (20/3/2026). Ribuan jamaah yang hadir mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan, sekaligus mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Prof. Dr. Mundakir, M.Kep.
Dalam khotbahnya yang mengangkat tema “Menjaga Hikmah Puasa Ramadan untuk Kesehatan Mental di Era Digital”, Mundakir menegaskan, Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum refleksi atas keberhasilan umat Islam dalam menjalani pendidikan spiritual selama bulan Ramadan.
“Kemenangan Idulfitri bukan hanya ditandai dengan selesainya puasa, tetapi dengan meningkatnya kualitas ibadah dan kesehatan kita—baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual,” ujarnya di hadapan jamaah.
Puasa sebagai Transformasi Diri
Dia menjelaskan bahwa ibadah puasa seharusnya membawa perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan baik selama Ramadhan seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, bersedekah, hingga menahan amarah harus terus dijaga setelah bulan suci berlalu.
Menurutnya, budaya saling memaafkan di hari raya juga menjadi bagian penting dari penyucian diri. Mundakir mengutip hadis Nabi Muhammad saw, bahwa setiap manusia pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.
“Hanya orang yang sombong yang enggan meminta dan memberi maaf. Idulfitri mengajarkan kita untuk kembali menjadi manusia yang rendah hati dan pemaaf,” tegasnya.
Dalam khutbahnya, Prof. Mundakir juga menyoroti fenomena global terkait kesehatan mental di era digital. Ia menyebut bahwa kemajuan teknologi justru menghadirkan tantangan baru berupa tekanan psikologis akibat arus informasi yang tidak pernah berhenti.
Mengutip data WHO, ia menyampaikan bahwa miliaran orang di dunia kini menghadapi persoalan kesehatan mental, termasuk meningkatnya kecanduan media sosial di kalangan remaja.
“Kita hidup di era hyperconnectivity, tetapi justru banyak manusia mengalami kesepian, kecemasan, dan kehilangan makna hidup,” ungkapnya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa Islam melalui ibadah puasa telah memberikan solusi komprehensif untuk menjaga kesehatan mental manusia.
Tiga Hikmah Puasa bagi Kesehatan Mental
Dalam penjelasannya, Prof. Mundakir menguraikan tiga hikmah utama puasa Ramadhan dalam menjaga kesehatan jiwa di era modern.
Pertama, puasa melatih pengendalian diri. Dia menegaskan bahwa salah satu akar masalah kesehatan mental adalah lemahnya kontrol diri. Puasa, menurutnya, menjadi latihan terbaik untuk menahan hawa nafsu dan mengendalikan impuls.
“Puasa adalah perisai. Ia melindungi manusia dari ledakan emosi, kecanduan, dan perilaku destruktif,” jelasnya.
(Tim)






















