KOTA BIMA, //TintaPos.Com// – 13 Mei 2026 — Mr. Fajrin Hardinandar, pemuda inspiratif yang kini sedang menempuh pendidikan tinggi, menilai pola pembangunan di Kota Bima belum mencapai efektivitas ekonomi yang diharapkan. Kondisi ini sejalan dengan tantangan yang dihadapi sejumlah daerah lain di Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan pengamatannya, berbagai proyek strategis yang dibangun memiliki konsep yang baik secara teori, namun keliru dalam penerapan di lapangan. Contohnya pembangunan pusat kegiatan ekonomi di Lapangan Pahlawan, pemasangan fasilitas pencahayaan di kawasan jembatan, serta penataan kawasan Paruga Nae. Semua proyek ini menyerap anggaran besar, namun tidak berfungsi sebagaimana tujuan awalnya. Bahkan penataan kawasan tertentu justru mengganggu keberlangsungan usaha masyarakat, membuat banyak pelaku usaha kecil kehilangan tempat berusaha dan pendapatannya menurun drastis.
Pola yang berulang menunjukkan bahwa pembangunan hanya berfokus pada aspek fisik semata, tanpa disertai perencanaan dampak ekonomi yang matang. Indikator efisiensi investasi juga menunjukkan kinerja yang sangat rendah, artinya modal yang dikeluarkan belum mampu menggerakkan perputaran ekonomi secara signifikan. Dampaknya terlihat jelas pada meningkatnya jumlah tenaga kerja yang beralih ke sektor informal akibat minimnya lapangan usaha yang layak.
Fajrin menegaskan bahwa pembangunan fisik tetap merupakan kebutuhan dasar. Namun keberhasilannya harus diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena dua kemungkinan: terbatasnya visi strategis dalam merencanakan pembangunan jangka panjang, atau adanya kepentingan tertentu yang mendahulukan keuntungan pihak tertentu di atas kesejahteraan umum.
“Persoalan utamanya bukan pada bentuk investasinya, melainkan kepada siapa manfaat hasil pembangunan itu sesungguhnya mengalir,” tegasnya.
Red.
(Adim Kaperwil-ntb)





















