Pamekasan //TintaPos.Com// – Merespons temuan ini, Dinkes Pamekasan bersama seluruh jajaran puskesmas terus bergerak cepat menekan potensi penularan meluas. Langkah nyata yang diambil antara lain melalui penguatan sistem surveilans dan penyelidikan epidemiologi dalam kurun waktu 2×24 jam setiap kali ditemukan kasus baru.
Dari puluhan kasus Kecamatan Pademawu dilaporkan menjadi wilayah dengan sebaran tertinggi, yakni mencapai tujuh kasus.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, mencatat setidaknya ada 36 kasus suspek campak yang terdeteksi hingga pengujung Maret 2026.
Kepala Dinkes Pamekasan, Saifudin, melalui Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Avira Sulistyowati, menyampaikan bahwa secara umum memang belum terjadi lonjakan wabah yang signifikan.
Kendati demikian, masyarakat diminta untuk tidak lengah dan tetap meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap penyebaran penyakit menular tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada meskipun grafiknya belum menunjukkan lonjakan kasus yang eksponensial. Langkah antisipasi dan pencegahan harus terus dilakukan secara masif,” ungkap Avira memberikan imbauan, Jumat, 27 Maret 2026.
Menurut Avira, benteng pertahanan utama adalah dengan memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi campak atau Measles Rubella (MR) secara lengkap. Vaksinasi krusial ini dapat diakses secara gratis di puskesmas maupun jejaring fasilitas kesehatan lainnya.
Selain itu, masyarakat juga dituntut untuk disiplin menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). “Mulai dari menggunakan masker saat kondisi tubuh sedang sakit, menerapkan etika batuk yang benar, hingga rutin mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas,” tegasnya.
Ia juga mewanti-wanti para orang tua agar tidak menunda membawa anaknya ke fasilitas kesehatan terdekat apabila muncul gejala awal campak, sehingga penanganan medis bisa segera diberikan dan tidak menulari anak lain.
Tak hanya itu, Dinkes juga menggenjot perluasan cakupan imunisasi melalui program imunisasi tambahan serentak (CRI) di empat wilayah puskesmas, yakni Puskesmas Teja, Pakong, Palengaan, dan Talang. Seluruh anak di kawasan tersebut diwajibkan untuk mengikuti penyuntikan imunisasi campak.
Sebagai langkah kuratif, penguatan tata laksana medis juga disiagakan, mulai dari penyediaan ruang isolasi, jaminan ketersediaan obat-obatan, hingga pendistribusian vitamin A.
Sosialisasi berupa Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) pun terus dibombardir kepada masyarakat melalui berbagai saluran media agar kesadaran akan bahaya campak semakin meningkat.
“Sementara untuk 17 puskesmas lainnya, kami menggencarkan program imunisasi kejar khusus bagi anak-anak yang riwayat imunisasinya belum lengkap,” tambah Avira (fat)






















