Ilustrasi Net
Kuansing //TintaPos.Com// – Baru saja terjadi insiden memalukan di Desa Pulau Bayur Kecamatan Cerenti kabupaten Kuantan Singingi terkait penertiban aktivitas PETI di sungai kuantan.
Tapi hal tersebut tidak menghentikan aktivitas Pemurnian Emas ilegal di desa pulau Bayur kecamatan Cerenti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari informasi yang di terima media ini ada aktivitas penadah emas di desa pulau Bayur kecamatan Cerenti yang masih buka seperti biasa tanpa adanya merasa bersalah yang sudah mencemari lingkungan. Jum’at, 24/10/2025
Salah seorang narasumber mengatakan “iya ada aktivitas Pemurnian emas di Desa Pulau Bayur kecamatan Cerenti, Diduga Inisial Wri menjadi bos besar karena setelah apa yang terjadi dia masih nekat melakukan aktivitas tersebut,” tuturnya.
Hal ini menjadi tamparan besar bagi Polsek Cerenti kenapa dan ada apa? Aktivitas tersebut masih bisa beraktivitas dengan normalnya.
Kami minta pak Kapolsek dengan tegas melakukan penindakan jangan beri ruang sedikitpun, karena takut akan terjadi hal yang sama.
Hal seperti itu diduga melanggar Pasal 161 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara yang berbunyi “Setiap orang atau pemegang IUP Operasi Produksi atau IUPK Operasi Produksi yang menampung, memanfaatkan, melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batubara yang bukan dari pemegang IUP, IUPK, atau izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 37, pasal 40 ayat (3), Pasal 43 ayat (2), Pasal 48, Pasal 67 ayat (1), pasal 74 ayat (1) pasal 81 ayat (2), Pasal 103 ayat (2), pasal 104ayat (3), atau Pasal 105 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000,00( sepuluh miliar rupiah).
Selain itu para pelaku itu juga terindikasi melanggar, Pasal 106 Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan berbunyi “ Pelaku Usaha yang melakukan kegiatan usaha Perdagangan tidak memiliki perizinan di bidang Perdagangan yang diberikan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau pidana denda paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah).”
Bahkan usaha pengolahan dan pemurnian logam emas yang itu diduga mengunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang melanggar Pasal 60 Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang berbunyi “Setiap orang dilarang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin.***



















