BANDUNG BARAT //TintaPos.Com// – Suasana haru menyelimuti akhir penugasan Tim Relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Wilayah Jawa Barat di lokasi bencana tanah longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Setelah Operasi SAR resmi ditutup, Sabtu (14/2/2026), para relawan berpamitan dengan warga dan keluarga korban yang selama berminggu-minggu menjadi bagian dari keseharian mereka.
Sejak hari pertama bencana hingga penutupan operasi oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, Tim UAR tetap istiqomah menjalankan tugas kemanusiaan bersama unsur SAR gabungan lainnya. Tim berjumlah 10 orang ini dipimpin M. Encep Zarkasih bersama Aris Rismanto, Uci Sanusi, Muhammad Ihsan, Aldi, Faiz, Rizki Ramdhani, Epul Saifullah, serta dua personel UAR Korwil Jabodetabek Banten, Miftahul Haq dan Maulana Yusuf Hizbullah.
Sebelum meninggalkan lokasi, para relawan bersama keluarga korban dan relawan lain menggelar doa bersama dipimpin Encep Zarkasih di salah satu titik yang diyakini masih terdapat korban yang belum ditemukan. Doa itu menjadi momen perpisahan yang penuh haru setelah 22 hari kebersamaan di tengah duka.
Mewakili tim, Encep Zarkasih mengungkapkan bahwa pengalaman di lapangan meninggalkan kesan mendalam, terutama kebersamaan lintas lembaga dalam misi kemanusiaan.
“Di lapangan terasa sekali kekompakan tim rescue dari berbagai unsur. Kami sering terharu melihat keluarga korban yang menanti dari kejauhan. Saat istirahat, mereka memohon agar anak, istri, suami, atau cucunya bisa ditemukan. Di situ kami merasa kehadiran relawan benar-benar berarti bagi mereka,” tuturnya.
Pria yang kerap disapa dengan Abah Encep itu menambahkan, posko UAR di serambi masjid menjadi ruang silaturahmi para relawan Jawa Barat sekaligus sarana dakwah dan penguatan spiritual. Di tengah beratnya tugas, kebersamaan itu menjadi energi tersendiri bagi para relawan.
Medan longsoran yang labil, lumpur yang licin, serta cuaca yang kerap berubah menjadi tantangan serius selama operasi berlangsung. Namun, kondisi tersebut justru menguatkan kedisiplinan tim dalam menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dan keselamatan kerja.
“Medan sangat berat dan berbahaya. Tapi di situ kami merasakan nikmatnya kehati-hatian, disiplin SOP, dan rasa syukur setiap kali korban berhasil ditemukan,” ujarnya.
Hubungan emosional antara relawan dan warga terdampak pun terjalin erat. Saat tim berpamitan pulang, banyak warga dan penyintas tak kuasa menahan air mata. Kebersamaan yang terjalin selama operasi meninggalkan kenangan mendalam bagi kedua belah pihak.
Dalam pesannya, Ketua Tim UAR Jawa Barat menekankan pentingnya peningkatan disiplin mematuhi SOP, penggunaan alat pelindung diri (APD) yang memadai, serta peningkatan pengetahuan pencarian di medan berat. Selain itu, kepekaan terhadap keselamatan diri, tim, serta keluarga korban harus terus ditingkatkan.
“Semua harus dibarengi dengan mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak dzikir, dan menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan kebesaranNya,” pesan Abah Encep yang juga Ketua Korwil Jawa Barat.
Dengan berakhirnya Operasi SAR Pasirlangu, para relawan kembali ke daerah masing-masing membawa pengalaman berharga, pelajaran kemanusiaan, serta tekad untuk terus hadir membantu masyarakat dalam setiap musibah yang terjadi. UAR terus bergerak untuk kemanusiaan. [Al Mujahid]
























