KABUPATEN DOMPU //TintaPos.Com// – Bantahan yang dilontarkan Koordinator PT SMU, Muhrim, justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Keluarga korban dan BAPEKA-NTB menolak mentah-mentah keterangan tersebut dan menilai itu semakin memperkuat bukti pelanggaran.
Sebelumnya, Muhrim menyatakan dengan nada membela diri:
“Saya tegaskan, tidak ada kejadian seperti yang diberitakan. Bahkan pada saat mereka memutuskan untuk pulang, saya sendiri yang mengantar mereka sampai ke terminal, memastikan mereka naik ke Bus Rasa Sayang dengan aman dan selamat,” ujar Muhrim.
Keluarga keempat TKW menegaskan TIDAK MENERIMA dalih tersebut.
“Kami tidak percaya! Apa yang dia katakan bertolak belakang dengan kenyataan. Anak-anak kami tidak pulang karena keinginan sendiri, tapi karena tekanan dan perlakuan yang tidak manusiawi. Jangan memutarbalikkan fakta!” tegas perwakilan keluarga dengan emosi memuncak.
PERNYATAAN GEMPAR KETUA BAPEKA TASRIF
Ketua Umum BAPEKA-NTB, Bapak Tasrif, angkat bicara keras dan menyoroti kejanggalan dari ucapan Muhrim tersebut.
“LUCU! Dia mengaku mengantar sampai terminal dan memastikan naik bus dengan selamat? Justru itu yang kami jadikan BUKTI KUAT! Kalau memang prosesnya lancar, kenapa mereka harus pulang mendadak? Kenapa harus diantar seperti itu?”
“ITU BUKAN BENTUK PELAYANAN, TAPI ITU BUKTI BAHWA MEREKA DIPAKSA DAN DIUSIR! Jangan coba-coba menutupi kejahatan dengan kata-kata manis. Kami tahu persis modus kalian memeras dan menekan pekerja!” tegas Tasrif.
AKSI NYATA: LAPOR RESMI KE DISNASKER
Didampingi langsung oleh tim hukum BAPEKA-NTB, keluarga korban mengambil langkah tegas.
KAMI AKAN LAPORKAN KASUS INI SECARA RESMI KE DINAS TENAGA KERJA (DISNASKER) KABUPATEN DOMPU.
Kami menuntut pemeriksaan tuntas terhadap PT SMU dan Muhrim atas dugaan pemerasan, intimidasi, dan pelanggaran prosedur penempatan. Keadilan harus ditegakkan!
Red.






















