KUTAI KARTANEGARA //TintaPos.Com// – Wacana penundaan pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur (Porprov Kaltim) yang semula dijadwalkan berlangsung pada 2026 mulai menimbulkan kekhawatiran di sejumlah daerah. Ajang olahraga empat tahunan tingkat provinsi tersebut dikabarkan berpotensi diundur ke tahun 2027 menyusul adanya pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat.
Porprov Kaltim 2026 sebelumnya direncanakan digelar di Kabupaten Paser sebagai tuan rumah. Namun hingga kini, belum ada keputusan resmi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terkait kepastian jadwal pelaksanaannya. Pembahasan masih berada pada tahap analisis dan pertimbangan, khususnya menyangkut kesiapan anggaran dan dampaknya terhadap daerah peserta.
Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Kartanegara, Dery Wardhana, membenarkan adanya pembahasan mengenai kemungkinan penundaan tersebut. Ia mengatakan, isu ini disampaikan dalam rapat koordinasi bidang kepemudaan dan keolahragaan yang diikuti oleh perwakilan Dispora kabupaten dan kota se-Kalimantan Timur.
“Dalam rapat koordinasi memang disampaikan informasi dari Dispora Kaltim, khususnya bidang prestasi olahraga, mengenai adanya kemungkinan Porprov diundur ke 2027. Namun perlu ditegaskan, hal itu masih berupa wacana dan belum menjadi keputusan final,” ujar Dery saat ditemui di Tenggarong, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, rencana penundaan Porprov tentu berdampak besar terhadap daerah yang saat ini tengah melakukan persiapan, termasuk Kutai Kartanegara. Pasalnya, berbagai kebutuhan teknis seperti pembinaan atlet, penyediaan sarana prasarana, hingga penganggaran telah disusun dengan asumsi pelaksanaan pada 2026.
Dery menjelaskan, salah satu faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah tingginya ketergantungan daerah terhadap dana transfer dari pemerintah pusat. Jika sebagian besar pembiayaan Porprov hanya mengandalkan APBD dan dana transfer yang mengalami pemangkasan, dikhawatirkan akan mengganggu program prioritas lainnya di daerah.
“Karena itu, muncul opsi untuk membuka peluang keterlibatan pihak swasta atau dunia usaha. Dukungan sponsor bisa menjadi alternatif agar pembiayaan Porprov tidak sepenuhnya dibebankan pada APBD,” jelasnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Dispora Kutai Kartanegara memastikan bahwa persiapan tetap berjalan. Meski belum maksimal, anggaran untuk kebutuhan dasar seperti pembinaan atlet dan inventaris awal sudah mulai dialokasikan secara bertahap.
Selain itu, Dery menekankan pentingnya perencanaan bonus atlet sejak awal. Ia mengingatkan agar para atlet yang nantinya berjuang dan meraih prestasi tidak dirugikan karena kurangnya kesiapan penghargaan dari daerah.
“Kami tidak ingin atlet sudah berjuang maksimal, tetapi bonus atau penghargaan justru belum jelas. Ini harus menjadi bagian penting dari perencanaan,” tegasnya.
Dispora Kutai Kartanegara juga terus berkoordinasi dengan KONI Kutai Kartanegara untuk memetakan kebutuhan teknis. Mulai dari pendataan jumlah atlet, kebutuhan peralatan dan seragam, hingga skema keberangkatan kontingen terus dibahas secara intensif.
Meski memahami kondisi keuangan daerah dan dinamika kebijakan pusat, Dery berharap Porprov Kaltim tetap dapat dilaksanakan sesuai jadwal awal pada 2026. Ia menilai, penundaan ke 2027 justru berisiko menumpuk agenda olahraga lainnya di tingkat provinsi maupun nasional.
“Kalau semua mundur ke 2027, tentu beban daerah akan semakin berat. Harapannya, ada solusi terbaik agar Porprov tetap berjalan dan pembinaan atlet tidak terganggu,” pungkasnya.
Penulis : Anggi Triomi






















