Bondowoso //TintaPos.Com// – Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso mencatat total panjang jalan di daerah ini mencapai 1.382.416 kilometer. Dari jumlah tersebut, 19,22 persen dalam kondisi baik, 45,03 persen sedang, 1,63 persen rusak, dan 34,12 persen rusak berat.
Angka ini menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah untuk meningkatkan kualitas infrastruktur secara bertahap dan berkelanjutan.
Berdasarkan Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (LPPD) 2025, sekitar 30,7 persen wilayah Bondowoso merupakan dataran rendah.
Kondisi ini membuat kawasan perkotaan relatif rentan terhadap ekosistem saat debit udara meningkat.
Dengan 35 sungai yang mengaliri wilayah ini, penguatan sistem drainase dan normalisasi aliran udara menjadi bagian penting dari strategi mitigasi.
Lanskap pegunungan yang indah dan komoditas kopi unggulan tetap menjadi kebanggaan, namun curah hujan tinggi di belakangan ini mengingatkan pentingnya kesiapan infrastruktur agar aktivitas warga tetap berjalan aman dan lancar.
Kabupaten Bondowoso yang lama dikenal sebagai “Surga Kopi” Jawa Timur kini dihadapkan pada tantangan berbeda saat musim hujan tiba.
Anggota Bidang Advokasi Kopri PKC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Timur, Maimuna, menilai kondisi ini menjadi momentum refleksi bersama.
Menurutnya, faktor alam memang tidak bisa dihindari, namun kesiapan tata kelola dan pemeliharaan infrastruktur perlu terus diperkuat agar dampak yang ditimbulkan bisa diminimalkan.
“Ini bukan semata soal hujan deras. Perlu ada penguatan pada tata kelola dan prioritas pembangunan agar masyarakat merasa lebih aman,” ujarnya.
Pemerintah Bondowoso sendiri telah menggulirkan program RANTAS (Infrastruktur Jalan Tuntas) dengan target pembangunan 25 kilometer jalan pada tahun 2026. Bupati Abdul Hamid Wahid menekankan komitmen mempercepat perbaikan infrastruktur meski di tengah keterbatasan fiskal daerah.
Bagi berbagai elemen masyarakat, musim hujan kali ini diharapkan menjadi titik penguatan sinergi.
Dengan langkah yang terukur dan konsisten, Bondowoso diharapkan tidak hanya dikenal sebagai Surga Kopi, tetapi juga sebagai daerah yang tangguh menghadapi dinamika alam.
Evaluasi menyeluruh terhadap proyek yang cepat rusak, peningkatan standar pemeliharaan, serta edukasi masyarakat soal kebersihan dan lingkungan dinilai penting. (DO’A)






















