Sumbar //TintaPos.Com// – Indonesia memasuki tahun 2026 dengan wajah yang terlihat stabil di atas kertas, namun mulai terasa berat di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Data makroekonomi menunjukkan kondisi yang relatif aman, tetapi realitas di lapangan berbicara lebih kompleks.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen.
Angka ini mencerminkan stabilitas dan ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global,Konsumsi domestik tetap menjadi penopang utama, sementara neraca perdagangan masih mencatatkan surplus.
Namun, pertumbuhan ini belum cukup kuat untuk mendorong lompatan besar menuju negara maju. Ekonomi Indonesia masih berjalan di “zona nyaman” tidak jatuh, tetapi juga belum melesat.
Di sisi lain, tekanan mulai terasa dari inflasi yang meningkat.
Pada awal 2026, inflasi mendekati 4 hingga hampir 5 persen secara tahunan.
Kenaikan harga pangan dan biaya hidup menjadi faktor utama yang langsung dirasakan masyarakat.
Dampaknya sederhana namun signifikan:
daya beli melemah.
Situasi ini diperparah dengan kondisi pasar tenaga kerja yang belum sepenuhnya sehat.
Tingkat pengangguran memang turun ke kisaran 4,7 persen, tetapi kualitas pekerjaan masih menjadi persoalan besar.
Banyak tenaga kerja terserap di sektor informal dengan pendapatan yang relatif rendah dan tanpa jaminan keamanan kerja.
Artinya, persoalan Indonesia hari ini bukan sekadar “ada atau tidaknya pekerjaan”, tetapi apakah pekerjaan tersebut mampu memberikan kehidupan yang layak.
Dari sisi kesejahteraan, angka kemiskinan memang berhasil ditekan ke bawah 10 persen.
Namun ketimpangan ekonomi masih terasa, tercermin dari rasio gini yang belum banyak berubah.
Distribusi hasil pembangunan belum sepenuhnya merata.
Tekanan juga datang dari nilai tukar. Rupiah yang melemah hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS menjadi sinyal adanya tekanan eksternal yang cukup kuat.
Kondisi global yang tidak menentu, mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi harga energi,ikut mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri.
Dalam konteks ini, Indonesia memang masih tergolong tangguh.
Fundamental ekonomi relatif kuat, sektor keuangan stabil, dan konsumsi domestik tetap bergerak.
Namun, ketahanan ini bukan berarti tanpa batas.
Masalah utama Indonesia hari ini bukan lagi soal stabilitas, melainkan kualitas pertumbuhan.
Apakah pertumbuhan tersebut benar-benar meningkatkan kesejahteraan? Apakah masyarakat merasakan dampaknya secara nyata?
Di sinilah tantangan terbesar berada.
Indonesia tidak sedang krisis. Tapi juga belum sepenuhnya aman.
Ke depan, arah pembangunan perlu bergeser dari sekadar menjaga pertumbuhan menuju memastikan pemerataan.
Fokus tidak cukup pada angka-angka makro, tetapi harus menyentuh langsung kehidupan masyarakat:
harga yang terjangkau, pekerjaan yang layak, dan kesempatan yang merata.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah negara bukan diukur dari statistik semata, tetapi dari seberapa ringan beban hidup yang dirasakan rakyatnya.
(*Penulis : Ziqro fernando)






















