Jember //TintaPos.Com// – Sore itu, kabut tipis menggantung di Jalur Gumitir. Deru mesin truk dan bus bersahutan, menembus tikungan demi tikungan yang menghubungkan Jember–Banyuwangi.
Setiap bulan Ramadan, jumlah “awe-awe” di Jalur Gumitir, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo, meningkat dibanding bulan biasa.
Mereka berdiri di tikungan dan tanjakan untuk mengharap pemberian dari sopir yang melintas, mulai dari uang, rokok hingga buah.
Di antara suara rem berdecit dan klakson panjang, sosok-sosok berdiri di tepi jalan, melambai kepada kendaraan yang melintas.
Mereka dikenal dengan sebutan “awe-awe”.
Setiap Ramadan tiba, jumlah mereka selalu bertambah. Jika di bulan biasa hanya wajah-wajah lama yang setia menunggu di tikungan, maka di bulan penuh berkah ini, para pendatang baru mulai bermunculan.
Hampir di setiap tikungan, ada yang berdiri dengan tangan terangkat, berharap recehan, sebungkus rokok, atau sekadar lemparan buah dari sopir yang melintas.
Bagi para awe-awe, Jalur Gumitir di bulan Ramadan adalah ruang bertahan hidup. Di antara tikungan tajam dan jurang yang menganga, mereka menunggu berkah yang melintas di atas roda-roda besar
Sebagian datang sendiri. Sebagian lagi membawa anak-anaknya.Di sebuah tikungan, tampak perempuan muda menggendong balita. Tak jauh dari situ, dua anak usia sekolah berdiri terpisah dari ibunya, memilih titik masing-masing untuk mengais rezeki.
Ramadan bagi mereka bukan hanya bulan ibadah, tapi juga musim harapan.Di antara kerumunan itu, berdiri sosok renta. Nenek Hartatik 80 tahun, warga Desa Kalibaru Manis, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi.
Tubuhnya ringkih, namun ia tetap tegak menghadap kendaraan yang melintas. Tangannya terangkat pelan setiap kali truk melambat di tanjakan. “Ramadan begini lebih ramai,” ucapnya singkat.
Bagi Tosari, warga Sempolan, Kecamatan Silo, fenomena ini sudah menjadi pemandangan tahunan. Ia menempati posnya di sebelah barat puncak Gumitir.
“Kalau bukan bulan puasa, ya orang-orang lama saja. Tapi kalau sudah Ramadan, yang baru mulai berdatangan,” katanya.
Menurutnya, menjelang Idul Fitri jumlahnya bisa lebih banyak lagi. Bahkan kini, tak hanya siang hari, malam pun ada yang tetap bertahan di tikungan.
Di Pos 6, tempat Tosari biasa berdiri, para sopir sudah hafal betul dengan gaya khasnya. Setiap kendaraan mendekat, ia melangkah ke tengah jalan dan berteriak, “Yak, kadek!” dengan logat yang menjadi ciri khasnya.Sebagian sopir tersenyum. Ada yang melempar uang kertas yang terlipat kecil.
Ada pula yang melempar sebungkus rokok atau buah dari bak truk.Tergantung muatan dan kemurahan hati masing-masing.Pantauan di lapangan menunjukkan hampir setiap tikungan kini “berpenghuni” awe-awe. Mereka berdiri di titik-titik rawan di tanjakan, di tikungan tajam, atau menjelang puncak.(red)






















