Jember //TintaPos.Com//-Bayang-bayang trauma luapan air yang menerjang puluhan desa, pada pertengahan Februari kemarin seolah masih menghantui.
Hal itu terus memicu kekhawatiran mendalam, terutama bagi ribuan warga yang tinggal tak jauh dari bantaran Sungai Bedadung.Potensi cuaca ekstrem masih menyelimuti wilayah Jember.
Di titik vital pengaturan air, yakni Dam Bendungan Bedadung yang berlokasi di Desa Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji, pengawasan dilakukan selama 24 jam penuh.Hal itu seiring dengan kondisi debit air yang seringkali melompat ke level waspada dalam waktu singkat.
Sehingga, secara otomatis bawa kiriman air dalam jumlah besar.Anton, salah satu petugas Penjaga Pintu Air (PPA) di bendungan tersebut, mengungkapkan bahwa intensitas hujan di wilayah hulu seringkali tidak terduga.
Hal itu diperparah dengan banyaknya anak sungai yang mengarah ke Sungai Bedadung dan semakin menambah besar volume airnya.
“Pada saat-saat tertentu, debit air atau volume sungai naik sangat cepat dan berada di level waspada,” katanya, saat memantau pergerakan air di Dam Rowotamtu.
Ia berharap warga tidak lengah, terutama saat hujan mengguyur dengan durasi lebih dari 5-7 jam. Karena risiko luapan sungai bisa terjadi kapan saja tanpa peringatan yang panjang.
“Jadi masyarakat utamanya yang tinggal tidak jauh dari sungai, harus ekstra waspada,” tambah dia.
Laporan BPBD Jember mencatat, hujan lebat pada awal Maret 2026 kemarin telah memberikan dampak serius di beberapa titik.Prioritas penanganan difokuskan di Desa Gugut, Kecamatan Rambipuji, termasuk distribusi tandon air bersih dan pembersihan lumpur di fasilitas umum,” kata Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, dalam keterangan resminya, (3/3).
Berupa kenaikan debit air di Sungai Dinoyo, Kaliputih, Badean, dan Kalijompo, (yang mayoritas bermuara ke Bedadung).
Hal itu menyebabkan banjir ke pemukiman warga dengan ketinggian 40-70 cm.
Sedikitnya total 132 KK (453 Jiwa) tersebar di enam desa/kelurahan yang berada di tiga Kecamatan (Panti, Rambipuji, Kaliwates).
Banjir juga membuat beberapa fasum rusak ringan dan sekitar 111 jiwa sempat mengungsi, sebelum akhirnya kembali setelah air surut. (redjatim)






















