RIOKASYTERWANDRA, S.Sos, MM Kasatpol PP, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kuantan Singingi

Dody Fitrawan, S.A.P,. M.M Plt. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kabupaten Kuantan Singingi

Menu Kering Ramadan Dipilih Demi Hindari Risiko Makanan Basi,Di Beberapa SPPG Di Jember

- Penulis

Kamis, 5 Maret 2026 - 03:24

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jember //TintaPos.Com// – Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kabupaten Jember Andriana Ayu menyatakan, selama bulan Ramadan, penyedia memilih mendistribusikan menu kering yang didominasi karbohidrat sederhana seperti roti. Alasannya, agar tidak cepat basi, meski mengorbankan variasi dan kualitas gizi yang seharusnya.

Fenomena ini mengungkap rapuhnya rantai distribusi dan lemahnya standar pengawasan di tingkat bawah yang mengakibatkan tiga Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di wilayah Balung, Puger, dan Tempurejo terpaksa dihentikan operasionalnya untuk sementara waktu.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember kini tengah diterjang badai kritik setelah temuan menu yang dianggap terlalu minimalis dan ala kadarnya viral di media sosial hingga memicu sanksi tegas dari pusat.

​”Alasannya karena memang menunya itu termasuk minimalis, dan kemarin itu sempat viral di media sosial. Pelaporannya naik ke pimpinan, akhirnya dikeluarkan surat suspend untuk satu minggu bagi tiga SPPG tersebut,” katanya, ditemui seusai rakor bersama bupati, di pendapa Wahyawibawagraha Senin (2/3) malam.

​Andriana berdalih bahwa minimnya jumlah item dalam menu disebabkan oleh melambungnya harga bahan baku tertentu, khususnya susu kemasan bermerek yang harganya melonjak di pasar.Menurutnya, harga satu kotak susu bisa memakan hampir setengah dari anggaran per porsi, sehingga item pendamping lainnya terpaksa dipangkas agar tetap masuk dalam hitungan biaya riil.

Salain itu, ia mengakui persoalan distribusi juga menjadi batu sandungan besar, mengingat sulitnya menjaga kesegaran produk lokal seperti susu sapi murni dari peternakan Rembangan hingga sampai ke tangan siswa. Hal ini memaksa penyedia beralih ke produk olahan pabrik yang lebih mahal namun praktis.

Baca Juga:  Warga RT 002 RW 017 Perumnas 3 Aren Jaya Gelar Silaturahmi Lebaran, Pererat Kebersamaan di Hari Raya

​Ketiadaan tenaga ahli gizi di tingkat Koordinator Wilayah (Korwil) untuk melakukan supervisi langsung juga disinyalir menjadi penyebab rendahnya kontrol kualitas terhadap menu yang diproduksi SPPG.”Ke depan kami arahkan SPPG untuk memaksimalkan anggaran, tapi kendala utamanya adalah harga buah dan susu yang sedang naik-naiknya, sementara pimpinan sudah meminta kami lebih transparan di media sosial,” pungkas Andriana.

Tanpa pengawasan independen yang ketat, standarisasi menu hanya menjadi tanggung jawab internal masing-masing penyedia yang cenderung mengutamakan efisiensi biaya ketimbang kelengkapan gizi.

​”Masyarakat menganggap harga susu itu 2.000, padahal sekarang bisa 4.000 sampai 5.000. Itulah alasan kenapa di menu kering itemnya hanya sedikit, karena kami harus menyesuaikan dengan kenaikan harga bahan baku,” jelasnya lagi.

​Evaluasi yang dilakukan pasca sanksi suspend ini diharapkan mampu memperbaiki transparansi, di mana setiap SPPG kini diminta untuk lebih terbuka dalam mencantumkan rincian harga.

Namun, publik tetap meragukan efektivitas solusi ini jika masalah mendasar seperti standarisasi harga dan distribusi logistik tidak segera dibenahi secara sistemik oleh pemerintah.(redjatim)

Berita Terkait

Dugaan Korupsi Alat Berat Dinas PUPR Kabupaten Bima: Rugikan Daerah Rp 3,89 Miliar, Pelapor Lengkapi Keterangan di Polres
Pernyataan Abu Janda Dinilai Keliru, Ketua PW GP Ansor Sumbar: Minangkabau Adalah Penjaga Peradaban
PETANI SAWIT MENJERIT, HARGA TBS “TERJUN” DINAS PERKEBUNAN KUANSING DIDUGA LEMAH DALAM PENGAWASAN HARGA TBS
Polsek Kuantan Hilir Lakukan Pengecekan Tanaman Jagung Pipil di Wilkumnya, Tanaman Jagung Tumbuh Subur dan Bagus
Imaam Yakhsyallah Mansur: Kehormatan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa Harus Dijaga Bersama
PO Bus Tanpa Legalitas Jadi Atensi Utama LKPM-NTB di Kota Bima, Ancam Lapor Penipuan Negara
Riki Rizo Namzah Ketua GP Ansor Kabupaten Solok Sembelih Sapi Kurban
UAR – YEIF Bagikan Hewan Qurban untuk Masyarakat Terdampak Bencana di Aceh dan Sumatera Utara
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 04:48

Dugaan Korupsi Alat Berat Dinas PUPR Kabupaten Bima: Rugikan Daerah Rp 3,89 Miliar, Pelapor Lengkapi Keterangan di Polres

Sabtu, 30 Mei 2026 - 04:46

Pernyataan Abu Janda Dinilai Keliru, Ketua PW GP Ansor Sumbar: Minangkabau Adalah Penjaga Peradaban

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:46

PETANI SAWIT MENJERIT, HARGA TBS “TERJUN” DINAS PERKEBUNAN KUANSING DIDUGA LEMAH DALAM PENGAWASAN HARGA TBS

Jumat, 29 Mei 2026 - 09:04

Polsek Kuantan Hilir Lakukan Pengecekan Tanaman Jagung Pipil di Wilkumnya, Tanaman Jagung Tumbuh Subur dan Bagus

Kamis, 28 Mei 2026 - 17:22

Imaam Yakhsyallah Mansur: Kehormatan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa Harus Dijaga Bersama

Kamis, 28 Mei 2026 - 15:57

Riki Rizo Namzah Ketua GP Ansor Kabupaten Solok Sembelih Sapi Kurban

Kamis, 28 Mei 2026 - 12:25

UAR – YEIF Bagikan Hewan Qurban untuk Masyarakat Terdampak Bencana di Aceh dan Sumatera Utara

Kamis, 28 Mei 2026 - 05:09

Yayasan GANISA Hadiri Pembinaan Ormas di Kabupaten Bekasi, Perkuat Sinergi Demi Wilayah Kondusif

Berita Terbaru