Jember //TintaPos.Com// – Saat jam sibuk di antara jam 07 – 09 pagi dan sore 16 – 18 Wib atau saat mudik,salah satu ujian kesabaran bagi para pengendara adalah di perempatan Mangli.Di sini, waktu seolah berjalan melambat, terutama bagi mereka yang terjebak di barisan antrean alias macet.
Pengendara hanya memiliki waktu singkat, yakni 30 detik untuk melintas saat lampu hijau menyala, namun harus bertaruh nasib dengan tertahan selama sekitar 2 menit saat lampu yang bersinar.Nah, tentu saja waktu tunggunya bisa lebih pada jam sibuk, terutama saat mudik Lebaran.
Salah satu jalan raya yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan kemacetan akut di perempatan Mangli, Kecamatan Kaliwates Jember.Namun, jangan sampai macetnya menjadi lebih parah dan akut untuk diurai.
Gelombang perdana mudik sudah mulai berdatangan.Ini diprediksi akan terus terjadi berkelanjutan hingga sampai Idulfitri.
Pantauan TintaPos Jember , mereka datang dari arah Jenggawah dengan situasi yang lebih menyesakkan.
Sisi selatan atau arah Jenggawah ini layak disebut sebagai titik paling ekstrem di Simpang Mangli.Pada jam puncak kemacetan di pagi hari dan sore hari, antrean kendaraan memaksa pengendara roda empat harus bersabar menunggu hingga tiga kali siklus lampu merah untuk bisa benar-benar lolos dari persimpangan.
Selain volume kendaraan yang meluap, kondisi infrastrukturnya pun memprihatinkan.Kontur jalan di sisi ini tidak rata dan bergelombang akibat tumpukan aspal bekas tambalan lubang.Kondisi ini secara otomatis menghambat laju arus kendaraan yang ingin segera tancap gas.
Bertemunya truk bertonase besar dengan ruas jalan yang sempit menciptakan kemacetan yang panjangnya bisa mencapai 800 meter.
Ada sebuah paradoks yang dirasakan pengendara di sini, saat bergerak masuk ke arah kota, pengendara akan merasa lega karena disambut oleh jalan dua arah yang begitu luas setelah sebelumnya terjepit dalam kepadatan.Tak heran jika waktu tunggu 3 kali 2 menit menjadi rutinitas pahit bagi para pelaju di jalur ini.
Beban jalur ini semakin berat karena menjadi urat nadi utama bagi truk-truk besar industri dari wilayah Jember Selatan yang hendak menuju arah Surabaya.Pemandangan berbeda terlihat dari arah Rambipuji. Jalur ini merupakan rute paling padat karena menjadi akses utama antar kota.
Namun, perasaan sebaliknya justru dirasakan oleh mereka yang bergerak dari arah kota menuju Rambipuji, di mana jalanan luas seketika menyempit dan mulai terasa sesak.Sementara itu, suasana unik tampak dari sisi utara atau arah Panti.
Sebab, sebagian besar rute di jalur ini adalah jarak dekat, pemandangan yang kontras di mana sejumlah pengendara motor seringkali enggan menggunakan helm.
Simpang Mangli bukan sekadar perempatan jalan, melainkan titik bertemunya berbagai dinamika sosial dan ekonomi Jember yang hingga kini masih menanti solusi permanen agar penderitaan menunggu tiga kali lampu merah ini segera berakhir. Tak pelak, sisi ini pula kerap menjadi sasaran fokus utama dan perhatian pihak kepolisian saat menggelar razia lalu lintas karena tingkat kepatuhan yang rendah.(redjatim)






















