Kota Bima, NTB –// tintapos.com/-Rabu, 10 Juni 2026 – Kelangkaan semen di Kota Bima bukan lagi soal terputusnya pasokan, melainkan diduga kuat merupakan rekayasa. Stok di toko-toko bangunan nyaris kosong, sementara harga yang sebelumnya berkisar Rp75.000 hingga Rp80.000 per sak kini meroket tajam menjadi Rp95.000 bahkan tembus Rp105.000 per sak.
Ketua LSM Lembaga Pemantau Pengawasan Korupsi Nusa Tenggara Barat (LPPK-NTB), Akbar Invalid, berbicara lugas tanpa tedeng aling-aling.
“Ini jelas kelangkaan buatan! Barang masih terus masuk dari luar daerah, tapi sengaja disembunyikan di gudang-gudang penampungan. Tujuannya cuma satu: menciptakan kelangkaan agar harga bisa dinaikkan seenak hati. Ini adalah kejahatan ekonomi yang sangat merugikan kepentingan seluruh warga,” tegasnya.
Akbar menegaskan situasi ini bukanlah kebetulan belaka. Dampaknya sudah terasa di lapangan: banyak proyek pembangunan dan perbaikan rumah warga terhenti, kontraktor kecil terpaksa berhenti beroperasi, dan beban ekonomi masyarakat makin berat akibat ulah segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Pemerintah tidak boleh diam saja! Kami mendesak Dinas Perdagangan serta Satuan Polisi Pamong Praja segera melakukan sidak paksa ke seluruh gudang milik distributor besar. Jika terbukti ditemukan stok yang ditimbun, harus langsung disita, disalurkan kembali ke pasaran dengan harga wajar, dan pelakunya diproses hukum sampai tuntas. Jangan hanya mengeluarkan imbauan kosong yang tidak memberikan solusi nyata!” serunya dengan tegas.
Ia juga memperingatkan, jika praktik ini terus dibiarkan, maka akan merusak iklim usaha dan semakin membebani rakyat kecil yang tidak berdaya.
“Uang rakyat jangan dijadikan sapi perah oleh oknum yang hanya mementingkan keuntungan pribadi. Kami akan terus mengawasi perkembangan ini, dan jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan nyata dari pihak berwenang, LPPK-NTB siap menggelar aksi turun ke jalan untuk menuntut keadilan dan harga yang wajar bagi masyarakat,” pungkas Akbar.
Hingga berita ini diturunkan, instansi terkait belum memberikan tanggapan apapun terkait dugaan penimbunan dan lonjakan harga semen yang terjadi.



















