Tolitoli, //Tintapos.com// – Petani di Kabupaten Tolitoli menghadapi tekanan pada musim panen akibat penurunan harga beras dan belum optimalnya penyerapan hasil panen oleh Perum Bulog. Kondisi ini menyebabkan sebagian petani menahan stok beras karena belum terserap pasar.
Situasi tersebut terjadi di tengah meningkatnya produksi hasil panen. Namun, kondisi harga yang rendah membuat petani tidak memperoleh hasil yang sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkan.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tolitoli, Taufik, menyampaikan bahwa kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah, khususnya dalam peran Bulog sebagai penyangga harga. Ia menilai, pada saat panen raya, keberadaan Bulog menjadi penting untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Menurutnya, selain persoalan harga, petani juga menghadapi kendala dalam proses penyerapan beras ke gudang Bulog. Sejumlah persyaratan yang berlaku dinilai menjadi hambatan bagi petani untuk dapat menyalurkan hasil panennya.
Akibatnya, beras lokal yang tersedia dalam jumlah cukup belum terserap secara optimal. Kondisi ini berdampak pada menumpuknya stok di tingkat petani, sementara harga jual terus mengalami penurunan.
Di sisi lain, petani juga menyoroti adanya pasokan beras dari luar daerah yang masuk untuk memenuhi kebutuhan gudang. Hal tersebut dinilai belum sejalan dengan kondisi produksi lokal yang sedang melimpah.
KTNA Tolitoli menilai perlunya kebijakan yang lebih berpihak kepada petani, terutama dalam memastikan hasil panen dapat terserap dengan baik. Selain itu, penyerapan beras diharapkan tetap memperhatikan standar kualitas, baik dari segi fisik maupun mutu.
Petani berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret melalui optimalisasi peran Bulog dalam menyerap hasil panen. Hal ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan harga serta memberikan kepastian pasar bagi petani.
Keluhan yang disampaikan oleh petani tersebut direncanakan akan diteruskan kepada pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan ke depan.
Kondisi ini menjadi perhatian karena keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh tingginya produksi, tetapi juga oleh kestabilan harga dan kepastian penyerapan hasil panen.






















