Jember //TintaPos.Com// – Pemandangan pilu 1.532 bangunan sekolah yang rusak berat di Kabupaten Jember menjadi “tamparan” keras bagi dunia pendidikan. Menanggapi krisis ini, Bupati Jember, Muhammad Fawait, tidak ingin sekadar mengandalkan laporan di atas kertas. Ia justru melempar tantangan terbuka kepada kaum intelektual muda untuk mendobrak kebuntuan solusi.
“Saya butuh otak dan keberanian adik-adik mahasiswa. Jember tidak sedang baik-baik saja, dan saya butuh ide segar yang gila, yang out of the box,” tegas Bupati yang akrab disapa Gus Fawait tersebut dengan nada bicara yang menggebu.
Pernyataan “provokatif” namun inspiratif itu disampaikan dalam momen hangat buka puasa bersama tokoh pemuda dan jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jember di Pendopo Wahyawibawagraha, Sabtu 7 Maret 2026. Di hadapan para aktivis kampus, Gus Fawait menegaskan bahwa masa depan Jember tidak boleh digadaikan oleh birokrasi yang kaku.
“Pemikiran mahasiswa itu murni. Kalian belum terkontaminasi kepentingan. Saya butuh kritik yang berdarah-darah namun membawa solusi, bukan sekadar laporan ‘asal bapak senang’ dari OPD,” ujarnya lantang
Politisi muda Partai Gerindra ini tak menampik bahwa Jember sedang berhadapan dengan kenyataan pahit. Selain infrastruktur pendidikan yang hancur, Jember masih dibayangi oleh predikat sebagai daerah dengan angka kemiskinan absolut tertinggi di Jawa Timur.
Bagi Gus Fawait, rusaknya sekolah dan tingginya kemiskinan adalah dua sisi mata uang yang harus dihancurkan sekaligus.
“Pendidikan adalah satu-satunya senjata untuk memutus rantai kemiskinan yang membelenggu rakyat kita. Jika sekolahnya rusak, bagaimana masa depan anak-anak kita bisa tegak?” paparnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Jember telah meluncurkan program ambisius berupa beasiswa bagi 20.000 mahasiswa asli Jember. Program ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan investasi besar-besaran untuk melahirkan “pasukan muda” yang siap membangun kembali tanah kelahirannya.
Di akhir pertemuan, Gus Fawait menitipkan pesan mendalam bagi para peserta yang hadir. Ia meminta mahasiswa tetap menjadi garda terdepan yang kritis, namun tetap berpijak pada solusi nyata.
“Mahasiswa harus tetap tajam, harus tetap kritis. Tapi ingat, kritik tanpa solusi itu hanya kebisingan. Saya tunggu kerja nyata kalian untuk Jember,” pungkasnya. (Nur/Tp)






















