Jember //TintaPos.Com// – Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ini kembali dihidupkan melalui pertemuan lintas generasi dalam kegiatan “Pol Kompol Tokang Kejhung” pada akhir Maret lalu.
Di sebuah sudut Desa Jubung, Kecamatan Sukorambi, suara lirih namun sarat makna mengalun pelan. Itulah kejhung, sastra lisan khas Madura yang tak sekadar dinyanyikan, tetapi juga dirasakan.
Kegiatan itu menjadi ruang temu antara para maestro dan generasi muda. Sejak siang hari, proses dokumentasi karya para pelaku seni kejhung dilakukan oleh tim Jhejung, sebagai upaya mengarsipkan tradisi ini ke dalam bentuk digital.
Langkah ini menjadi penting, agar kejhung tidak hanya hidup di panggung-panggung lokal. Tapi juga dapat diakses lebih luas melalui teknologi. Kejhung sendiri bukan sekadar lantunan suara.
Di dalamnya tersimpan pesan kehidupan, nasihat, hingga potret sosial masyarakat Madura. Nilai-nilai inilah yang ingin diwariskan para maestro kepada generasi penerus.
Dalam sesi pembelajaran, peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, diajak memahami teknik vokal hingga makna yang terkandung dalam setiap bait kejhung.
Mereka belajar langsung dari para maestro seperti Jamhari, Wulandari, dan Mak Tik, yang selama ini menjadi penjaga hidupnya tradisi tersebut.
“Kejujuran rasa itu penting dalam kejhung. Ini bukan hanya untuk didengar, tapi untuk dipahami,” ujar Jamhari, salah satu maestro, menegaskan bahwa kejhung adalah warisan yang harus terus dirawat.
Antusiasme generasi muda pun terlihat. Mereka tak hanya menyimak, tetapi juga mencoba melantunkan kejhung dengan gaya mereka sendiri.
Bagi sebagian peserta, ini menjadi pengalaman pertama bersentuhan langsung dengan tradisi lisan yang sebelumnya hanya mereka dengar sepintas.
Salah satu mahasiswi dari Universitas Jember (Unej),menyampaikan kesannya terhadap kegiatan tersebut.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat. Saya mengajak teman-teman semua untuk senantiasa menjaga dan mempelajari budaya agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya,Kamis (9/4/2026).
Interaksi hangat antara maestro dan peserta menjadi tanda bahwa kejhung masih memiliki ruang di hati generasi muda.
Di tengah dunia yang serba digital, upaya pelestarian ini menjadi jembatan, menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Suara leluhur itu kini tak hanya menggema di desa, namun perlahan menemukan jalannya menuju ruang-ruang digital, menyapa generasi baru tanpa kehilangan jati dirinya.
Melalui langkah dokumentasi dan pembelajaran ini, kejhung diharapkan tak sekadar bertahan, tetapi juga berkembang dan lebih lagi bisa maju.(pal)






















