TIGO LURAH, SOLOK, SUMATERA BARAT //TintaPos.Com// – Perjuangan para guru di daerah pelosok kembali menyita perhatian. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, tiga orang guru, yakni Gusrianto Jamil, Pak Doni, dan Buk Pera bersama suaminya, mengalami situasi sulit saat menempuh perjalanan menuju tempat mengajar di Tigo Jangko, Nagari Tanjung Balik Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Tigo Jangko merupakan salah satu wilayah terpencil di ujung Kabupaten Solok yang berbatasan dengan Kabupaten Sijunjung. Wilayah ini memiliki akses jalan yang masih sulit dilalui, sehingga perjalanan menuju tempat mengajar menjadi tantangan tersendiri bagi para tenaga pendidik yang setiap hari menjalankan tugas mencerdaskan generasi bangsa.
Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas tersebut, para guru tetap berjuang demi memberikan pendidikan kepada sekitar 43 orang murid di wilayah Tigo Jangko. Jumlah murid tersebut menjadi salah satu alasan kuat bagi para guru untuk terus bertahan dan mengabdikan diri di pedalaman, meskipun harus menghadapi medan perjalanan yang berat serta berbagai keterbatasan sarana dan prasarana.
Dalam keterangannya kepada media Tinta Pos, Buk Pera menceritakan pengalaman yang dialaminya ketika sepeda motor yang digunakan menuju tempat mengajar mengalami kerusakan parah di tengah perjalanan. Kendaraan tersebut tidak dapat diperbaiki karena keterbatasan peralatan dan sulitnya memperoleh suku cadang atau onderdil di wilayah tersebut.
Di tengah keterbatasan itu, semangat kebersamaan menjadi jalan keluar. Sepeda motor Buk Pera yang rusak terpaksa ditarik menggunakan tali dengan bantuan dua sepeda motor milik rekan sesama guru secara bergantian. Peristiwa ini menjadi gambaran nyata tentang beratnya perjuangan tenaga pendidik di daerah terpencil demi menjalankan tanggung jawab mereka terhadap dunia pendidikan.
Kondisi jalan yang masih berupa tanah semakin memperberat perjalanan, terutama ketika hujan turun. Jalan yang sulit dilalui tidak hanya menghambat aktivitas para guru, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan. Apabila terjadi kerusakan kendaraan atau keadaan darurat, bantuan sulit dijangkau karena lokasi yang jauh dan akses jalan yang tidak memadai.
Melalui pengalaman tersebut, Buk Pera berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Solok dan pihak terkait dapat memberikan perhatian yang lebih serius terhadap kondisi daerah terisolir, khususnya akses jalan menuju Tigo Jangko. Menurutnya, perbaikan infrastruktur jalan sangat dibutuhkan agar para guru dapat menuju tempat tugas dengan lebih aman dan masyarakat setempat juga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa terus-menerus terkendala kondisi jalan.
Ia meminta Pemda Kabupaten Solok agar tidak mengabaikan kondisi masyarakat di wilayah pelosok dan lebih serius menghadirkan pembangunan yang merata hingga ke daerah terisolir. Jalan yang layak bukan sekadar kebutuhan transportasi, melainkan juga penunjang penting bagi keberlangsungan pendidikan, pelayanan masyarakat, serta keselamatan warga yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan.
Para guru yang mengabdi di pelosok negeri membutuhkan dukungan fasilitas yang memadai. Mereka tidak seharusnya terus-menerus dibayangi kekhawatiran akan kerusakan kendaraan, sulitnya mendapatkan pertolongan, hingga ancaman keselamatan ketika cuaca buruk. Terlebih, pendidikan bagi sekitar 43 murid di Tigo Jangko juga bergantung pada kemampuan para guru untuk menjangkau tempat tugas mereka.
Kisah perjuangan guru di Tigo Jangko ini menjadi pengingat bahwa pengabdian dalam dunia pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ada perjalanan panjang, medan yang berat, serta berbagai keterbatasan yang harus dihadapi demi memastikan anak-anak di pelosok negeri tetap mendapatkan pendidikan.



















