NTB //TintaPos.Com// – Memperingati Hari Pendidikan Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan yang penuh simbol dan formalitas. Di balik penetapan hari ini, tersimpan jejak sejarah panjang perjuangan bangsa, termasuk pengorbanan jiwa dan raga demi tegaknya hak atas pendidikan yang merdeka dan bermartabat. Ada cerita tentang generasi muda yang menghadapi represi, bahkan kehilangan nyawa, demi memperjuangkan ruang belajar yang bebas dari penindasan.
Namun, refleksi Hari Pendidikan Nasional hari ini menghadirkan kegelisahan baru. Sistem pendidikan di Indonesia dinilai semakin terjebak dalam arus pasar bebas yang kian menguat. Logika kapitalisme merambah ruang-ruang pendidikan, menggeser nilai dasar pendidikan sebagai hak publik menjadi komoditas ekonomi. Pendidikan perlahan diposisikan sebagai produk, bukan lagi sebagai sarana mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dalam situasi ini, akses terhadap pendidikan berkualitas kerap ditentukan oleh kemampuan ekonomi. Lembaga pendidikan berlomba-lomba menawarkan “layanan unggulan” dengan biaya tinggi, sementara kelompok masyarakat rentan semakin terpinggirkan. Dunia pendidikan pun tak luput dari praktik eksploitasi, ketika orientasi keuntungan lebih dominan dibandingkan misi mencerdaskan.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: untuk siapa sebenarnya pendidikan diselenggarakan? Apakah pendidikan masih menjadi alat pembebasan, atau justru berubah menjadi mekanisme reproduksi ketimpangan sosial?
Momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif untuk mengembalikan arah pendidikan pada cita-cita awalnya. Pendidikan bukan sekadar investasi ekonomi, melainkan hak dasar setiap warga negara yang harus dijamin negara tanpa diskriminasi.
Sudah saatnya seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, pendidik, dan masyarakat—meninjau ulang arah kebijakan pendidikan. Tanpa upaya serius untuk mengembalikan pendidikan sebagai ruang pembebasan dan keadilan sosial, makna Hari Pendidikan Nasional berisiko kehilangan substansinya, tinggal menjadi ritual tahunan tanpa perubahan nyata. Red.





















