JEMBER, //Tintapos// – Awan mendung menggelayuti industri perhotelan di Kabupaten Jember pada pembuka tahun 2026. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan signifikan pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK) yang kini terjerembap di angka 33,31 persen.
Angka ini menjadi alarm bagi para pelaku usaha, mengingat pada periode yang sama tahun lalu, tingkat hunian masih mampu bertahan di angka 36,48 persen. Penurunan ini mencerminkan lesunya minat wisatawan atau pendatang untuk menghabiskan waktu lebih lama di “Kota Cerutu” ini.
Tak hanya sepi peminat, mereka yang datang pun enggan berlama-lama. Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) di Jember kini tercatat hanya 1,11 hari. Artinya, mayoritas tamu hanya singgah untuk satu malam sebelum melanjutkan perjalanan.
“RLMT untuk tamu asing bahkan lebih rendah, yakni 1,04 hari, sementara domestik 1,11 hari,” ungkap Kepala BPS Jember, Peni Dwi Wahyu Winarsi, Selasa, 3 Maret 2026.
Peni menegaskan bahwa fungsi BPS adalah memotret realitas angka di lapangan. Mengenai alasan di balik fenomena “singgah sekejap” ini, ia menyerahkan analisisnya kepada para pemangku kebijakan dan pelaku industri.
“Kalau sampai alasan kenapa orang (enggan lama) menginap, itu biasanya ranahnya PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia),” tegasnya.
Ironisnya, lesunya hunian hotel terjadi di tengah upaya Pemerintah Daerah yang sudah memangkas harga tiket destinasi ikonik. Sejak 2 Januari 2026, tiket masuk Pantai Papuma dan Watu Ulo telah didiskon besar-besaran, dari Rp25.000 menjadi hanya Rp15.000.
Kebijakan ini bahkan menyumbang deflasi pada kelompok rekreasi dalam laporan inflasi daerah. Namun, “obat” penurunan harga tiket ini rupanya belum manjur untuk mendongkrak okupansi hotel.
“Penurunan harga tiket itu tertangkap dalam data inflasi. Namun, kunjungan wisata kemungkinan masih didominasi warga lokal. Jadi, tidak otomatis menaikkan tingkat hunian kamar hotel karena mereka tidak perlu menginap,” pungkas Peni.
Realitas pahit ini menjadi tantangan besar bagi Jember: Bagaimana mengubah citra dari sekadar kota transit menjadi destinasi yang layak disinggahi berhari-hari.(Nur/Tp)






















