KOTA BIMA – //Tintapos.com//-Senin,21 September 2026
Gelombang kebencian terhadap praktik pemerasan berkedok pinjaman yang dijalankan Muhammad Taufan semakin meluas dan memanas. Bukan hanya satu atau dua laporan ,kini saksi‑saksi mulai berani bersuara, laporan tambahan terus masuk, dan Lembaga Swadaya Masyarakat Laskar NTB telah mengeluarkan surat pemberitahuan aksi sebagai tanda ketegasan: rakyat tidak akan diam membiarkan kejahatan merajalela di tengah masyarakat.
Saksi Mulai Maju, Fakta Semakin Jelas
Berkas yang sudah masuk tahap Penyelidikan di Polres Bima Kota kini kian lengkap. Saksi dari kasus pemerasan maupun saksi terkait praktik rentenir yang dilakukan Taufan sudah mulai dimintai keterangan. Tidak hanya itu , laporan tambahan dari korban lain yang selama ini takut bersuara kini mulai tumpah satu per satu. Mereka menceritakan pola yang sama: pinjaman kecil yang makin membengkak, ancaman, tekanan, hingga pemanfaatan nama pihak berwenang untuk menakut‑nakuti.
Dari Kesombongan Menjadi Kemarahan Publik
Kemarahan warga bukan muncul tiba‑tiba. Semua bermula dari kelakuan Taufan sendiri yang dulu pamer kekayaan di media sosial, bersikap seolah uang bisa menentukan segalanya, bahkan seenaknya mencaci dan menghina orang lain di ruang publik. Seolah ia berdiri di atas hukum, seolah tidak ada yang berani menegurnya. Kesombongan inilah yang pertama kali membakar hati banyak orang , dan kini berubah menjadi tekad bulat untuk mengawal keadilan sampai tuntas.
“Dulu ia merasa paling berkuasa. Sekarang semakin banyak yang tahu, semakin tidak ada tempat untuk bersembunyi,” ujar salah satu warga yang mengikuti perkembangan kasus ini.
Laporan Tambahan Terus Masuk ,Praktik Ilegal Terbongkar Lebih Luas
Bukti yang dikumpulkan kini menunjukkan bahwa praktik ini berjalan lebih luas dari yang diketahui sebelumnya. Korban tidak hanya satu keluarga , melainkan banyak warga yang terjerat, diancam, dan dirugikan. Pinjaman yang terlihat kecil di awal, berubah menjadi beban yang mencekik: bunga melonjak tak wajar, tagihan dibuat sewenang‑wenang, bahkan ada yang sampai menggadaikan tanah dan harta benda demi membayar utang yang sebenarnya sudah lunas.
LSM Laskar NTB Siap Bergerak, Surat Pemberitahuan Aksi Sudah Keluar
Menyikapi memanasnya situasi dan belum tuntasnya penanganan kasus ini, LSM Laskar NTB telah mengeluarkan surat pemberitahuan pelaksanaan aksi. Langkah ini diambil sebagai bentuk peringatan tegas kepada seluruh pihak: penegakan hukum harus berjalan transparan, tidak boleh ada yang ditutup‑tutupi, dan setiap pihak yang terlibat , baik pelaku utama maupun mereka yang melindungi ,harus diusut dan dipertanggungjawabkan.
Publik Berhak Tahu, Keadilan Tidak Bisa Ditunggu Saja
Berkaitan dengan hal ini, BAPEKA‑NTB menegaskan: mengawal keadilan tidak boleh hanya berdiam diri menunggu kabar.
“Kalau kita diam saja, kebenaran bisa tertutup, proses bisa melambat, bahkan berhenti tanpa kita ketahui. Itulah sebabnya kami terus menyampaikan fakta kepada semua orang. Publik berhak tahu bagaimana hukum berjalan ,terbuka atau ditutupi? Siapa yang diperiksa, siapa yang dilindungi? Apakah kesombongan yang dipamerkan itu akhirnya dipertanggungjawabkan?”
Ketika semua orang tahu, tidak ada yang berani menutupi kebenaran. Ketika mata warga terbuka lebar, proses hukum tidak bisa dimainkan. Ketika suara korban didengar , ibu yang menangis, anak yang terluka, keluarga yang ketakutan ,mereka tidak merasa sendirian. Dan pelaku yang dulu sombong pun tidak merasa aman.
Tuntutan Semakin Nyata
Kini, gabungan kekuatan saksi yang berani, korban yang mulai melapor, dan lembaga yang siap mengawal , menuntut satu hal yang sama: Proses hukum berjalan terbuka dan transparan,Setiap saksi didengar, setiap bukti diteliti, Siapa pun yang terlibat —,termasuk yang diduga melindungi ,diperiksa tuntas,Tidak ada uang yang bisa membeli keadilan, dan tidak ada kesombongan yang bisa berdiri di atas hukum
Situasi terus berkembang. Warga Kota Bima dan seluruh NTB memantau erat. Aksi yang disiapkan Laskar NTB menjadi pengingat nyata: kesabaran rakyat ada batasnya, dan keadilan tidak akan menunggu selamanya.
Red.



















