JAKARTA – //Tintapos.com//-Keprihatinan terhadap kondisi para pengungsi warga negara asing (WNA) yang terlantar di sekitar Kantor Komisioner Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) Jakarta mendorong Pembina Utama Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) Imaam Yakhsyallah Mansur turun langsung menemui dan memberikan bantuan kepada mereka pada Ahad (26/7/2026).
Imaam Yakhsyallah Mansur tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 WIB. Setelah berkoordinasi dengan pihak UNHCR, dengan diampingi Pembina UAR Korwil Jabodetabek Banten Edy Siswanto dan petugas keamanan langsung menemui para pengungsi dan memberikan nasi kotak kepada mereka. Saat itu hanya ada beberapa pengungsi yang tinggal di trotoar halaman kantor UNHCR.
“Kalau siang para pengungsi memang sepi. Sebagian pergi ke masjid atau tempat lainnya karena adanya penertiban oleh petugas Satpol PP DKI. Biasanya sekitar pukul 20.00 WIB mereka kembali dan tidur di tenda, Sisa nasi kotak kami titipkan kepada petugas untuk dibagikan kepada puluhan pengungsi yang belum datang,” kata Edy Siswanto saat dikonfirmasi, Senin (27/7/2026).
Menurut Edy, para pengungsi yang telah lebih dari sebulan tinggal sementara di sekitar kantor UNHCR Jakarta tersebut antara lain berasal dari Afghanistan, Irak, Somalia, dan Myanmar. Mereka meninggalkan negara asal karena kondisi yang tidak kondusif dan berharap memperoleh perlindungan serta kehidupan yang lebih layak.
“Banyak di antara mereka yang tidak memiliki dokumen kewarganegaraan, sehingga mengalami kesulitan untuk kembali ke negara asal maupun mendapatkan penempatan di negara lain. Beberapa pengungsi telah berhasil disalurkan ke Australia, sementara sebagian lainnya masih menunggu kepastian di Jakarta,” ujarnya.
Edy mengatakan, kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan mendalam bagi Imaam Yakhsyallah. Menurutnya, persoalan para pengungsi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga internasional, tetapi juga merupakan panggilan kemanusiaan bagi masyarakat untuk membantu sesuai kemampuan masing-masing.
“Imaam Yakhsyallah Mansur menegaskan bahwa manusia yang tidak peduli terhadap kesulitan sesamanya dan tidak mau memberikan atau mengajak orang lain memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan, termasuk pendusta agama sebagaimana diingatkan dalam Surat Al-Ma’un,” kata Edy.
Imaam Yakhsyallah, lanjut Edy, juga sempat menanyakan kemungkinan memberikan akses pendidikan bagi anak-anak pengungsi yang telah memasuki usia sekolah melalui lembaga pendidikan Al-Fatah. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh saat itu, tidak terdapat anak usia sekolah di antara para pengungsi yang ditemui.
Kepedulian terhadap para pengungsi tersebut sebelumnya telah diwujudkan UAR melalui “Program Dapur UAR Peduli Pengungsi UNHCR”. Program penyantunan makanan itu telah berjalan sejak Senin (20/7/2026), dengan menyalurkan 30 nasi kotak setiap hari kepada para pengungsi yang tinggal sementara di sekitar Kantor UNHCR Jakarta.
Edy mengatakan, program tersebut direncanakan berlangsung selama satu bulan dan akan dievaluasi sesuai perkembangan kondisi di lapangan. “Kita akan melihat kondisi perjalanan nanti. Sementara ini, informasi yang kami terima, bantuan bagi para pengungsi dari UNHCR memang sangat terbatas akibat pemangkasan anggaran,” ujarnya.
Melalui program tersebut, lemnbaga kemanusiaan UAR berharap dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi sekaligus mengajak masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi di sekitar mereka. [AM]




















