Tintapos. Com// – Di sebuah tempat di pinggiran Kabupaten Solok terdapat sebuah desa pedalaman yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk suara lalu lintas. Di sana terbentang pemandangan yang memukau. Hamparan sawah hijau membentang luas dan menyejukkan setiap mata yang memandang. Kabut tipis menyelimuti ladang-ladang warga, sementara sinar matahari yang hangat muncul dari balik gunung tinggi yang menjulang. Para petani berjalan di jalan setapak yang tidak beraspal. Akses keluar desa hanyalah sebuah jalan kecil yang dipenuhi batu kerikil dan dikelilingi hutan yang rimbun.
Rumah-rumah penduduk di desa itu masih terbuat dari bahan alami seperti kayu dan papan. Di sanalah berdiri sebuah gubuk beratapkan ijuk dengan lantai kayu yang mulai lapuk. Seorang anak bernama Budiman tinggal di sana bersama kedua orang tuanya. Kehidupannya begitu sederhana, bahkan bisa dibilang jauh dari kata cukup. Layaknya anak-anak lain, Budiman juga memiliki keinginan untuk mempunyai rumah yang bagus dan layak huni. Karena itu, ia bertekad dalam hati bahwa suatu hari nanti ia ingin mengangkat derajat kedua orang tuanya.
Sejak kecil Budiman memiliki semangat luar biasa dalam bersekolah. Ia tidak hanya datang, duduk, lalu pulang. Budiman benar-benar haus akan ilmu dan selalu berusaha mengejarnya. Latar belakangnya sebagai anak petani bukanlah penghalang baginya untuk terus belajar.
Berkat kegigihannya, Budiman yang hidup dalam bayang-bayang kemiskinan berhasil menjadi wakil ketua OSIS di sekolahnya. Bahkan ia sendiri tidak menyangka bisa sampai sejauh itu.
Waktu terus berlalu. Anak kecil itu kini tumbuh menjadi seorang remaja. Budiman berhasil menamatkan pendidikan tingkat menengahnya.
Sebuah keinginan besar muncul dalam hatinya. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke sekolah agama. Selama ini Budiman merasa Tuhan telah banyak membantunya, sehingga ia ingin lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, masuk pondok pesantren terasa mustahil baginya. Bukan karena larangan atau jarak, melainkan karena ia merasa orang tuanya tidak akan sanggup membiayai sekolah swasta.
Budiman bingung. Kepalanya terus memutar berbagai cara, tetapi tak menemukan jalan keluar. Hingga suatu malam, ketika semua orang tertidur lelap, Budiman memilih bangun. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu, lalu melaksanakan salat dengan khusyuk dan penuh keikhlasan. Ia berharap Tuhan mendengar doa kecilnya.
Dan benar saja, sebuah keberuntungan datang. Guru suraunya menawarkan Budiman untuk melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah Negeri. Sekolah itu berbasis agama, persis seperti yang ia impikan. Budiman sangat bahagia mendengar kabar tersebut. Dengan semangat yang membara, ia mulai mempersiapkan segala keperluan untuk mendaftar ke sekolah barunya.
Hari itu pun tiba, hari ketika Budiman harus pergi jauh meninggalkan orang tua dan kampung halamannya. Dengan penuh harapan, ia memulai langkah baru untuk menyapa dunia.
“Tunggu aku, aku pasti akan membuatmu dikenal dunia,” gumamnya pelan.
Air mata menetes membasahi pipinya. Ia tidak mengusapnya, karena ia tahu itu adalah air mata kebahagiaan.
Budiman memulai hari-hari barunya di sekolah dengan semangat yang sama. Ia aktif berorganisasi seperti di sekolah sebelumnya, namun tetap giat belajar. Semangatnya dalam menuntut ilmu tak pernah padam.
Namun, ada saat ketika Budiman merasa sedih dan kecewa, yaitu ketika ia tidak mendapatkan peringkat kelas. Saat teman-temannya berbahagia menerima penghargaan, Budiman hanya bisa termenung menatap rapornya yang tidak sesuai harapan.
“Apa selama ini aku kurang belajar keras?” batinnya memberontak.
Melihat Budiman yang biasanya ceria tiba-tiba murung, Ibu Elma selaku wali kelas merasa heran. Ia menghampiri Budiman yang sedang duduk termenung.
“Ada apa dengan kamu, Budiman? Kamu sakit?” tanya Ibu Elma dengan penuh perhatian.
“Saya tidak apa-apa, Bu. Saya cuma sedikit kecewa karena gagal,” jawab Budiman sambil meremas kertas yang sedari tadi ia pegang.
Ibu Elma pun memahami apa yang dirasakan muridnya itu.
“Nak, keberhasilan bukan hanya soal mendapatkan peringkat kelas. Keberhasilan adalah ketika kamu mampu melawan rasa takut, malas, dan ragu. Dan selama ini kamu sudah berhasil melakukan semua itu, bukan?” ujarnya lembut sambil menepuk bahu Budiman.
“Percayalah, dengan doa dan tekad yang kuat, kamu pasti akan berhasil. Mungkin bukan sekarang, tetapi suatu hari nanti.”
Sejak saat itu Budiman berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyerah dan terus berjuang.
Waktu berlalu hingga akhirnya Budiman duduk di kelas tiga. Selama tiga tahun di sekolah itu, kedua orang tuanya tak pernah datang menjenguk. Ketika teman-temannya dikunjungi keluarga setiap bulan, Budiman hanya bisa melihat dan memendam rasa rindu. Namun ia memilih untuk tetap fokus mengejar cita-citanya: menyelesaikan pendidikan dan mengenalkan kampung halamannya kepada dunia luar.
Ujian akhir semakin dekat. Namun tiba-tiba muncul wabah virus mematikan yang membuat semua orang takut. Sekolah pun dikarantina dan ujian dilakukan secara daring dari rumah.
Setelah tiga tahun lamanya, akhirnya Budiman kembali ke kampung halamannya menggunakan sepeda motor tuanya. Setelah perjalanan empat jam, motornya mogok tepat di perbatasan desa. Malam itu jam menunjukkan pukul sembilan, dan jalanan hutan tampak sunyi. Dengan nekat, Budiman meninggalkan motornya dan berjalan kaki sejauh dua kilometer melewati hutan hingga akhirnya tiba di rumah.
Ketika melihat anak laki-lakinya pulang, ibu Budiman langsung memeluknya erat. Kerinduan yang selama ini dipendam akhirnya terobati.
Keesokan paginya Budiman mulai mengikuti ujian menggunakan ponsel. Di hari pertama semuanya berjalan lancar, tetapi di hari berikutnya jaringan internet menjadi masalah besar. Soal-soal ujian tak kunjung muncul di layar ponselnya.
“Ayolah…” gumam Budiman panik.
Ia berlari keluar rumah menyusuri jalan setapak demi mencari sinyal, tetapi tak berhasil. Hingga akhirnya ia melihat sebuah pohon tinggi di ujung jalan. Dengan tubuh gemetar ia mulai memanjat pohon itu.
“Sedikit lagi…” gumamnya.
Sesampainya di atas dahan, Budiman melihat satu garis sinyal muncul di layar ponselnya. Ia menghela napas lega dan segera menyelesaikan ujian. Namun ketika menoleh ke bawah, tubuhnya langsung gemetar. Ia sadar berada sangat tinggi di atas tanah. Dengan hati-hati dan penuh rasa takut, Budiman akhirnya berhasil turun.
Sejak saat itu, memanjat pohon demi mencari sinyal menjadi rutinitasnya selama ujian berlangsung. Itu menjadi pengalaman paling unik sekaligus menegangkan dalam hidupnya.
Dua minggu kemudian hasil ujian diumumkan. Budiman pasrah menerima apa pun hasilnya. Ketika angka-angka muncul di layar ponselnya, air mata kembali menetes. Nilainya jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Kini Budiman resmi menamatkan pendidikannya di MAN.
Kicauan burung terdengar merdu di pagi hari. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Budiman yang sedang duduk di tepi sawah. Ia memandangi ibunya yang tengah menanam padi. Setelah tamat dari MAN, Budiman hanya membantu ibunya bertani tanpa pekerjaan tetap.
“Masa aku hanya sampai di sini? Aku harus mewujudkan impianku,” batinnya.
Setelah melaksanakan salat zuhur, Budiman memberanikan diri berbicara kepada ibunya.
“Bu, ada yang ingin aku bicarakan,” ucapnya pelan.
“Ada apa, Nak?” tanya ibunya lembut.
Budiman pun menceritakan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Ibunya hanya terdiam sambil meneteskan air mata.
“Ibu serahkan semuanya padamu, Nak,” ucapnya lirih.
Hari keberangkatan pun tiba. Tak ada bekal mewah, tak ada kendaraan yang mengantar. Hanya doa dan air mata yang mengiringi langkah Budiman. Berkat pengalaman organisasinya, ia berhasil diterima di Universitas Adzkia Padang.
Budiman kuliah sambil bekerja. Ia membiayai hidup dan pendidikannya sendiri dari hasil jerih payahnya. Karena itu, ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan. Budiman aktif di dalam kelas maupun organisasi hingga akhirnya berhasil menjadi Presiden Mahasiswa Universitas Adzkia.
Berkat relasinya yang luas, satu per satu mimpinya mulai terwujud. Ia berhasil membawa bupati datang ke kampung halamannya, sebuah desa yang sebelumnya tak pernah dikenal orang. Kini desa itu mulai menjadi perhatian pemerintah. Jalan-jalan diperbaiki, rumah-rumah direnovasi, termasuk rumah milik Budiman.
Budiman menatap rumahnya yang dahulu hampir roboh, kini berdiri kokoh dan indah. Ia tersenyum haru sambil berkata,





















