BOGOR //TintaPos.Com// – Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah), KH. Drs. Yakhsyallah Mansur, MA., mengajak umat Islam menjadikan setiap musibah kematian sebagai sarana untuk mengingat akhir kehidupan dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.
Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri ta’ziyah di rumah duka keluarga almarhumah Tri Susilah binti Karto Suwiryo, istri Imaam pertama Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Dr. Syeikh Wali Al Fattah, di Kompleks Pondok Pesantren Al-Fatah, Pasirangin, Kec. Cileungsi, Kabupaten Bogor, Senin (1/6/2026) malam.
Acara ta’ziyah yang berlangsung hari ketiga setelah pemakaman almarhumah di Desa Kamulyan, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, itu dihadiri keluarga almarhumah dari Cikampek, Cibarusah, dan Bogor, serta warga Kompleks Pesantren Al-Fatah dan jamaah setempat.
Mengawali tausiyahnya, Imaam Yakhsyallah menyampaikan doa ta’ziyah dan mengingatkan keluarga agar bersabar menghadapi musibah yang menimpa.
“A’zhamallahu ajraka wa ahsana ‘aza aka wa ghafara limayyitika. Semoga Allah memperbesar pahala kalian, memberikan kesabaran dalam menghadapi musibah, dan mengampuni dosa-dosa almarhumah,” ucapnya.
Menurut beliau, kematian merupakan kepastian yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Al-Qur’an menggunakan beberapa istilah berbeda untuk menjelaskan kematian, di antaranya maut, ajal, wafat, dan yaqin.
“Yaqin itu berarti sesuatu yang pasti. Kematian adalah sebuah keyakinan karena pasti akan dialami oleh setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya,” ujar Imaam Yakhsyallah.
Dalam tausiyahnya, ia juga mengajak jamaah mengambil pelajaran dari Surat Al-Muddatstsir ayat 43 hingga 46 yang menjelaskan penyebab manusia masuk ke dalam Neraka Saqar, yaitu melalaikan shalat, tidak memberi makan orang miskin, gemar membicarakan kebatilan, serta mendustakan hari pembalasan.
“Kalau seseorang benar-benar ingat kematian, dia tidak akan meninggalkan shalat, dia akan senang memberi makan orang lain, dia tidak akan suka membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, dia pasti yakin adanya hari kebangkitan dan hari akhir,” katanya.
Imaam Yakhsyallah menegaskan bahwa memberi makan sesama merupakan salah satu amal yang sangat dicintai Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadi jalan yang memudahkan seseorang masuk surga.
Dalam hadis yang diriwayatkan At- Tirmidzi tersebut, Rasulullah menyebutkan empat amalan yang menjadi sebab seseorang masuk surga dengan selamat, yaitu menebarkan salam, menyambung tali persaudaraan, memberi makan, dan melaksanakan shalat malam ketika manusia sedang tidur.
Jika itu dilakukan, maka manusia akan masuk surga dengan penuh keselamatan. Menurutnya, empat amalan tersebut sangat relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Menebarkan salam itu tidak mudah. Menyambung silaturahim juga tidak mudah. Tetapi dua amalan itu memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Begitu juga memberi makan dan membiasakan shalat malam,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Imaam Yakhsyallah juga mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan majelis ta’ziyah karena merupakan tempat yang tepat untuk mengingat kematian.
“Jangan sampai kita meremehkan majelis ta’ziyah. Di sinilah tempat yang paling cocok untuk berbicara tentang kematian dan mempersiapkan diri menghadapi kematian itu sendiri,” katanya.
Menutup tausiyahnya, Imaam Yakhsyallah mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak mengingat kematian karena hal itu akan mengurangi kecintaan berlebihan terhadap kenikmatan dunia.
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan dunia, yaitu kematian. Mudah-mudahan wafatnya Ibu Tri Susilah menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa suatu saat kita akan menyusul beliau,” ujarnya.
Imaam juga mengungkapkan keyakinannya bahwa almarhumah akan terus menerima aliran pahala dari amal-amal kebaikan yang dilakukan para Ikhwan dan akhwat Jama’ah Muslimin (Hizbullah).
“Saya yakin almarhumah akan mendapatkan kiriman pahala dari begitu banyak ikhwan dan akhwat yang mendoakannya. Beliau adalah pendamping Imaam pertama Jama’ah Muslimin dan generasi awal perjuangan umat. Insya Allah beliau husnul khatimah,” kata Imaam Yakhsyallah. [AM]




















