BOGOR //TintaPos.Com// – Memasuki pekan pertama Juli 2026, sejumlah aktivitas kegempaan dan vulkanik terjadi di berbagai wilayah Indonesia. BMKG mencatat gempa bumi tektonik mengguncang Halmahera Barat, Maluku Utara, dan Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai 200 meter di atas puncak.
Gempa pertama terjadi pada Jumat (3/7/2026) pukul 09.31 WIB di wilayah Halmahera Barat, Maluku Utara. Berdasarkan analisis BMKG, gempa berkekuatan Magnitudo 6,2 tersebut berpusat di laut pada kedalaman 104 kilometer, sekitar 56 kilometer barat daya Pulau Doi.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa menengah yang dipicu aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng Laut Maluku dengan mekanisme pergerakan geser naik (oblique thrust fault).
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami,” jelas Wijayanto dalam keterangan resminya, Jumat.
Getaran gempa dirasakan dengan intensitas III-IV MMI di Halmahera Utara, III MMI di Ternate, Tidore, Sanana, dan Morotai, serta II-III MMI di Manado, Kota Gorontalo, Gorontalo Utara, dan Bone Bolango.
Masih pada hari yang sama, Jumat pukul 11.50 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, tinggi kolom abu teramati sekitar 200 meter di atas puncak atau sekitar 357 meter di atas permukaan laut.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan bahwa saat ini Gunung Anak Krakatau masih berada pada Status Level III (Siaga). Masyarakat, wisatawan, maupun pendaki direkomendasikan tidak mendekati kawasan gunung atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif demi menjaga keselamatan.
Selanjutnya, pada Sabtu (4/7/2026) pukul 00.14 WIB atau 01.14 WIT, gempa bumi kembali terjadi di wilayah Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. BMKG memperbarui parameter gempa menjadi Magnitudo 4,8 dengan pusat gempa berada sekitar 8 kilometer timur laut Waikabubak pada kedalaman 9 kilometer. Gempa dangkal tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif.
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mengatakan gempa dirasakan di Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Timur, dan Tambolaka dengan intensitas III MMI. “Hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan sebagai dampak gempabumi tersebut,” ujar Arief Tyastama dalam keterangan resminya. BMKG juga memastikan gempa di Sumba tidak berpotensi tsunami dan hingga pukul 01.44 WIB belum terpantau adanya gempa susulan.
UAR Tingkatkan Kesiapsiagaan
Menyikapi meningkatnya aktivitas kebencanaan di berbagai daerah tersebut, Pengurus Pusat Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) mengingatkan kembali kepada seluruh pengurus dan anggota Koordinator Wilayah (Korwil) UAR se-Indonesia agar meningkatkan kesiapsiagaan personel dan peralatan.
‘Kami minta seluruh Korwil meningkatkan pemantauan terhadap perkembangan informasi kebencanaan dari BMKG, PVMBG, BNPB maupun BPBD setempat. Cek kesiapan personel, sarana-prasarana, peralatan penyelamatan dan komunikasi, serta memastikan koordinasi internal tetap berjalan apabila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk mendukung operasi kemanusiaan,” ujar Ketua Umum UAR H. Endang Sudrajat di Bogor, Sabtu (4/7/2026)
Selain itu, seluruh anggota UAR diimbau untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tetap mengutamakan keselamatan personel dalam setiap aktivitas, serta siap memberikan dukungan kemanusiaan apabila terjadi kondisi darurat di wilayah masing-masing sesuai SOP yan sudah ditetapkan.
Dengan meningkatnya aktivitas gempa bumi dan vulkanik pada awal Juli ini, kesiapsiagaan seluruh elemen, baik pemerintah, masyarakat maupun organisasi relawan, menjadi bagian penting dalam upaya meminimalkan risiko serta mempercepat respons apabila terjadi bencana.[AM]





















