MATARAM
-//Tintapos.com//
SENIN, 7 SEPTEMBER 2026
Lembaga yang seharusnya menjadi penolong bagi warga yang sedang jatuh sakit, justru menjadi beban tambahan bagi keluarga pasien. Sudah tiga kali keluarga pasien bolak-balik dari RSUP NTB ke kantor BAZNAS Provinsi NTB, berharap bantuan biaya pendampingan berobat segera dicairkan untuk meringankan beban pengobatan. Namun pada Senin siang ini, untuk ketiga kalinya, mereka kembali pulang dengan tangan kosong — karena tidak ada satu pun pimpinan BAZNAS NTB yang ada di kantor.
Setiap kali mendatangi kantor BAZNAS NTB, keluarga pasien harus mengeluarkan biaya perjalanan sekitar Rp50.000. Dalam tiga kali kunjungan, total biaya yang telah dikeluarkan mencapai ratusan ribu rupiah. Padahal, bantuan yang mereka harapkan hanya berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp3 juta — jumlah yang seharusnya meringankan beban, bukan malah menambah pengeluaran.
Berkas pengajuan bantuan biaya pendampingan berobat itu sendiri sebenarnya sudah diserahkan lebih dari dua minggu yang lalu. Namun hingga kini belum ada kejelasan pencairan. Keterlambatan ini memunculkan kesan bahwa urusan warga miskin yang sedang berjuang melawan sakit justru ditempatkan sebagai prioritas paling belakang.
Ketiadaan pimpinan di kantor secara berulang-ulang menjadi pertanyaan besar masyarakat. Bagaimana lembaga yang dipercaya mengelola dana umat dan bertugas menyalurkan bantuan kepada yang membutuhkan, justru kosong melompong saat warga datang memohon pertolongan?
Keluarga pasien mempertanyakan dengan tegas: Kemana seluruh pimpinan BAZNAS NTB, sampai tidak ada satu pun yang ada di kantor untuk menerima berkas maupun menyalurkan bantuan yang sudah lama ditunggu-tunggu? Apakah lembaga ini benar-benar ada untuk umat, atau justru umat yang harus bersusah payah mengejar pelayanan yang seharusnya diberikan dengan mudah?
Masyarakat berharap pimpinan BAZNAS NTB segera hadir di kantor pada jam kerja, memberikan kejelasan pencairan bantuan, dan memperbaiki sistem pelayanan agar tidak lagi membebani warga yang sedang berduka dan sakit. Bantuan yang seharusnya meringankan, tidak boleh menjadi beban yang berlipat ganda.
“Zakat dan infak umat dipercayakan untuk meringankan beban, bukan menambah beban mereka yang sudah tertimpa musibah. Semoga BAZNAS NTB segera mendengar dan bertindak.”




















