Padang //TintaPos.Com// – Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Adzkia menggelar diskusi publik bertajuk Apatisme Mahasiswa terhadap Organisasi dan Krisis Kepemimpinan” di lantai satu Gedung Lama Universitas Adzkia, Sabtu (14/6/2026) sore.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai menurunnya minat mahasiswa dalam berorganisasi serta tantangan regenerasi kepemimpinan di lingkungan kampus. Diskusi berlangsung interaktif dengan dihadiri mahasiswa dari berbagai program studi yang antusias mengikuti jalannya acara.
Acara dipandu oleh Satria Perdana selaku Menteri Luar Negeri BEM KM Universitas Adzkia. Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Syabib, staf Kementerian Luar Negeri BEM KM Adzkia, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh para narasumber yang hadir.
Turut menjadi pemateri dalam diskusi tersebut, Iranto selaku Presiden Mahasiswa yang sedang menjabat, Haikal Fatwa selaku Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) terpilih, serta dua tokoh alumni Almadani, yaitu Andra yang pernah menjabat sebagai Ketua MPM selama dua periode dan Budiman yang merupakan Presiden Mahasiswa periode 2023/2024.
Dalam pemaparannya, para narasumber menyoroti berbagai faktor yang menyebabkan menurunnya partisipasi mahasiswa dalam organisasi kampus. Salah satu faktor yang paling banyak dibahas adalah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial yang membuat sebagian generasi muda lebih fokus pada aktivitas digital dibandingkan kegiatan pengembangan diri melalui organisasi.
Selain itu, para pemateri menegaskan bahwa organisasi kemahasiswaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter, kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta keterampilan manajerial yang tidak selalu diperoleh di ruang perkuliahan. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk membangun kembali minat mahasiswa agar terlibat aktif dalam organisasi.
Berdasarkan hasil diskusi yang dihimpun oleh Media Tinta Pos di lokasi kegiatan, para narasumber sepakat bahwa krisis kepemimpinan yang mulai terlihat di kalangan mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari lemahnya proses kaderisasi dan regenerasi organisasi. Mereka menekankan pentingnya penataan sistem regenerasi yang lebih terstruktur, berkelanjutan, dan mampu melahirkan calon-calon pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas, serta komitmen terhadap kemajuan kampus.
Para pemateri juga menawarkan sejumlah gagasan untuk meningkatkan daya tarik organisasi kemahasiswaan, seperti menghadirkan program-program yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa saat ini, memanfaatkan teknologi sebagai sarana pengembangan organisasi, serta menciptakan lingkungan organisasi yang lebih inklusif, inovatif, dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri.
Melalui diskusi publik ini, BEM KM Universitas Adzkia berharap dapat membangun kesadaran mahasiswa akan pentingnya berorganisasi sebagai sarana pembelajaran kepemimpinan dan pengabdian. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam membangkitkan kembali semangat partisipasi mahasiswa serta melahirkan generasi pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman di masa mendatang.





















