RIOKASYTERWANDRA, S.Sos, MM Kasatpol PP, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Kuantan Singingi

Dody Fitrawan, S.A.P,. M.M Plt. Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kabupaten Kuantan Singingi

PMII Banyuwangi Dorong Rekonstruksi Wacana Keislaman Lewat Simposium Kaderisasi

- Penulis

Minggu, 15 Maret 2026 - 10:54

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banyuwangi //Tintapos.com// – PMII Banyuwangi Dorong Rekonstruksi Wacana Keislaman Lewat Simposium Kaderisasi Semangat rekonstruksi wacana sosial-keagamaan kembali bergeliat di kalangan generasi muda Nahdlatul Ulama (NU). Hal itu tampak dalam kegiatan Simposium Kaderisasi yang digelar Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Banyuwangi bersama puluhan kader serta Pengurus Komisariat dan Rayon.

Kegiatan yang berlangsung tersebut, digeber di Aula LP Ma’arif NU Kabupaten Banyuwangi. Simposium ini menjadi ruang diskusi sekaligus refleksi bagi kader PMII Banyuwangi dalam mengawali fokus kinerja kaderisasi dan pengembangan wacana organisasi.

Rangkaian acara dimulai dengan seremoni pembukaan, sambutan, diskusi tematik, hingga diakhiri dengan buka puasa bersama. Momentum ini juga menjadi titik awal perjalanan kaderisasi PMII Banyuwangi untuk memperkuat arah gerakan intelektual kader di tengah dinamika sosial-keagamaan yang terus berkembang.

Dengan mengusung tema “Hayya ‘Ala at-Tajdid: Post-Tradisionalisme sebagai Paradigma Alternatif”, kegiatan ini menyoroti pentingnya pembaruan cara pandang dalam membaca tradisi dan realitas sosial.

Ketua Bidang Kaderisasi PC PMII Banyuwangi, Hafid Aqil, dalam sambutannya berharap PMII Banyuwangi mampu menghadirkan gagasan alternatif di tengah wacana dan sistem kaderisasi yang selama ini dinilai perlu diperbaharui

Menurutnya, pasca ‘rekonsiliasi politik’ NU dengan Rezim di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, dalam Mukmatar NU di Situbondo pada 1984, tokoh-tokoh muda dari kalangan Nahdliyin telah menggagas gerakan pembaharuan Khittah 1926.

“Sahabat-sahabat PMII Banyuwangi perlu mengetahui bahwa gerakan ini bukan sebatas kembali kepada ‘turats’ lantas meninggalkan kenyataan sosial. Lebih jauh, gerakan ini justru membawa ‘turats’ untuk menjadi solusi konkret atas problem kekinian saat itu,” katanya.

Hafid juga menjelaskan bahwa Post-Tradisionalisme yang menjadi kajian utama dalam simposium tersebut diharapkan mampu menggugat wacana yang selama ini telah mapan.

“Sebagai Nahdliyin yang mencoba untuk berpikir, perebutan wacana itu perlu dikenal dan dibebaskan. Maka ikhtiar ini tidak lain merupakan wadah untuk mengupayakan hal tersebut bersama-sama,” ujarnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum PC PMII Banyuwangi, Haikal Roja’ Hasbunallah, menegaskan bahwa pengembangan wacana dalam proses kaderisasi merupakan aspek vital bagi keberlangsungan organisasi.

“Simposium kaderisasi ini bukan sekadar forum seremonial. Lebih dari itu, forum ini menjadi ruang konsolidasi gagasan, dialektika pemikiran, sekaligus refleksi bersama untuk membaca kembali arah dan masa depan kaderisasi PMII, khususnya di Kabupaten Banyuwangi,” ucapnya.

Baca Juga:  Bupati Tolitoli Dorong Mahasiswa Menjadi Pelaku Usaha dan Pencipta Lapangan Kerja

Menurut Haikal, kaderisasi merupakan jantung organisasi. Dari proses inilah lahir kader-kader yang tidak hanya memiliki militansi gerakan, tetapi juga kedalaman intelektual, kepekaan sosial, serta komitmen kebangsaan dan keislaman yang kuat.

“Oleh karena itu, kaderisasi tidak boleh berhenti pada formalitas pelatihan semata, melainkan harus menjadi proses pembentukan karakter, penguatan ideologi, dan penempaan kepemimpinan,” cetusnya.

Sementara itu, dalam sesi diskusi tematik, Agus H. Abdul Latif, sebagai narasumber pertama, menyoroti pentingnya pembaruan dalam tradisi intelektual Nahdliyin.

“Nahdliyin kini seolah merasa cukup dengan khazanah keagamaan yang ada, namun, jika mau menuntut pembaharuan, muncul satu pertanyaan. Apakah kita betul-betul siap untuk menerima tuntutan tersebut?” ujarnya.

Salah satu pengasuh Ponpes Manba’ul Ulum Berasan itu, juga menyinggung posisi generasi muda yang berada di tengah dinamika dua generasi berbeda. Dia meyakini bahwa prinsip moderat yang kini hadir sebagai manhajulfikr NU, tidak bisa dipungkiri telah membawa banyak kemaslahatan untuk umat.

“Adopsi paradigma Barat memang pernah masif dilakukan oleh umat Islam. Namun, meninggalkan ‘tradisi’ juga bukan menjadi solusi umat, melainkan justru mengikis paradigma ke-Islaman itu sendiri,” tuturnya.

Dalam sudut pandang lain, narasumber kedua, Mahasin Haikal Amanullah, menjelaskan bahwa Post-Tradisionalisme Islam dapat dipahami sebagai sub-kultur yang hidup di tengah dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lurah Mukadimah Institute itu, menyebut bahwa Islam itu dinamis. Sehingga dalam bahasa Post-Tradisionalisme, Islam menjadi sub-kultur di tengah kultur yang bernama berbangsa dan bernegara.

“Biasanya kaum Post-Tradisionalis, mereka mengambil contoh untuk kemudian ditransformasikan pada sebuah nilai. Sehingga mereka tidak terpaku pada teks. Makanya kaum Post-Tradisionalis seringkali mampu membaca pergerakan lebih baik dari para orang-orang neo-modernis,” paparnya.

Melalui simposium ini, PMII Banyuwangi berharap ruang-ruang diskusi intelektual di kalangan kader semakin hidup, sekaligus melahirkan gagasan segar yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi keislaman Nahdlatul Ulama. (Tim)

Berita Terkait

KETUA UMUM GANISA: Mengajak Seluruh Masyarakat Indonesia Peduli Generasi Penerus Bangsa Bersama kita Wujudkan Indonesia Emas
BAZNAS Kota Padang Buka Program Bantuan Penyelesaian Tugas Akhir bagi Mahasiswa
Aktivitas PETI Menggunakan Alat Berat di Kelurahan Muara Lembu, diduga Milik Rauf Tak Tersentu Hukum, APH Diminta Tindak Tegas..
Membongkar Skandal Pajak ‘Siluman’ BPKAD Kota Bima: Diduga Jadi Modus Amankan Mafia Tanah Reklamasi Amahami!.p
LPPK-NTB AKSI DI BRI CABANG BIMA: TOLAK PRAKTIK ASURANSI YANG TAK BERDASAR HUKUM DAN MERUGIKAN MASYARAKAT ,HANYA MENGUNTUNGKAN BANK
Pengurus Pusat UAR Tegaskan Pembentukan Satgas Nasional Penanggulangan Bencana Kekeringan
Direktur Adomart Yudi Siswanto Resmikan Cabang Ketiga di Jati, Perluas Layanan untuk Masyarakat Kota Padang
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 22 Juli 2026 - 07:53

BAZNAS Kota Padang Buka Program Bantuan Penyelesaian Tugas Akhir bagi Mahasiswa

Selasa, 21 Juli 2026 - 13:03

Aktivitas PETI Menggunakan Alat Berat di Kelurahan Muara Lembu, diduga Milik Rauf Tak Tersentu Hukum, APH Diminta Tindak Tegas..

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:40

Membongkar Skandal Pajak ‘Siluman’ BPKAD Kota Bima: Diduga Jadi Modus Amankan Mafia Tanah Reklamasi Amahami!.p

Sabtu, 18 Juli 2026 - 16:57

Jumat, 17 Juli 2026 - 12:43

LPPK-NTB AKSI DI BRI CABANG BIMA: TOLAK PRAKTIK ASURANSI YANG TAK BERDASAR HUKUM DAN MERUGIKAN MASYARAKAT ,HANYA MENGUNTUNGKAN BANK

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:38

Pengurus Pusat UAR Tegaskan Pembentukan Satgas Nasional Penanggulangan Bencana Kekeringan

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:18

Direktur Adomart Yudi Siswanto Resmikan Cabang Ketiga di Jati, Perluas Layanan untuk Masyarakat Kota Padang

Jumat, 17 Juli 2026 - 09:17

Residivis Curanmor Ditangkap, Polda Sumsel Bongkar Penipuan Digital Berkedok Bhayangkara Run 2026

Berita Terbaru