Bitung //TintaPos.Com// – Rotasi dan mutasi dalam tubuh Kepolisian Daerah Sulawesi Utara (Polda Sulut) kali ini membawa cerita yang berbeda. Di balikTelegram Resmi Nomor ST/339/IV/KEP/2026 tanggal 25 Juni 2026 tentang penyegaran organisasi.
Terselip kisah hangat tentang seorang perwira yang telah menorehkan tinta emas kemanusiaan di wilayah kepulauan terdepan. AKBP Arie Sulistyo Nugroho, S.I.K., M.H., lulusan Akpol 2005 yang sebelumnya menjabat Kapolres Kepulauan Talaud, kini dipercaya mengemban amanah baru sebagai Kapolres Bitung, menggantikan AKBP Albert Zai yang dimutasi menjadi Kabagdalpers Ro SDM Polda Sulut.
Bagi masyarakat Sitaro-Talaud, kepergian AKBP Arie bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan kehilangan sosok pemimpin yang telah menjadi bagian dari keluarga mereka. Selama dua tahun penuh (2024–2026), ia tidak hanya menjalankan tugas kepolisian, tetapi juga merajut persaudaraan dengan pendekatan yang lembut, bijaksana, dan selalu hadir di tengah-tengah rakyat.
Salah satu momen paling berkesan terjadi pada Jumat, 23 Januari 2026. Ketika ketegangan muncul akibat selisih paham antara oknum TNI AL Lanal Melonguane dan warga setempat, AKBP Arie tidak memilih jalan konfrontatif.
Bersama personel Polres Talaud, ia turun langsung ke lapangan, memberikan pengamanan sekaligus edukasi yang humanis. Pendekatannya yang tenang dan dialogis berhasil meredam emosi kedua belah pihak, mengembalikan kedamaian di Lanal Melonguane tanpa ada pihak yang merasa dikalahkan.
“Pak Arie mengajarkan kami bahwa keamanan itu dibangun dari rasa saling menghormati, bukan dari kekuasaan seragam,” kenang salah seorang tokoh masyarakat Melonguane.
Jejak kemanusiannya juga terasa saat bencana alam melanda. Pada tahun 2024, ketika Gunung Ruang erupsi dan menimbulkan korban jiwa serta kerugian materiil, AKBP Arie bersama personel Polres Talaud dan Bhayangkari Cabang Talaud sigap bergerak. Mereka tidak menunggu instruksi atas, tetapi langsung turun membantu evakuasi, mendistribusikan logistik, dan menenangkan warga yang trauma.
Kehadiran polisi di pengungsian bukan sebagai aparat penegak hukum, melainkan sebagai saudara yang berbagi beban.
Tugas berat juga pernah ia emban dengan penuh tanggung jawab. Pada Jumat, 8 Mei 2026, AKBP Arie memimpin Apel Konsolidasi Pengamanan Kunjungan Kerja Presiden RI Prabowo Subianto di Lapangan SD Pulau Miangas. Sebagai garda terdepan di wilayah perbatasan, ia memastikan kesiapan maksimal demi kelancaran agenda kenegaraan tersebut.
Namun, di sela-sela tugas berat itu, ia tak pernah lupa merayakan Hari Ulang Tahun Bhayangkara ke-80 dengan cara yang merakyat. Pada bulan Mei–Juni 2026,
ia menggelar berbagai lomba dan kegiatan sosial yang melibatkan nelayan pesisir, pemuda-pemudi, dan ibu-ibu PKK. Bagi AKBP Arie, HUT Polri harus dirayakan bersama masyarakat, bukan hanya di dalam markas.
Menyusul berita mutasinya, suara haru mengalir deras dari masyarakat Talaud. Melalui perwakilan warga Aldo Mengatakan bahwa “Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang tak terhingga kepada AKBP Arie Sulistyo Nugroho. Beliau bukan sekadar Kapolres, tapi bapak bagi kami semua.
Setiap senyumnya, setiap nasihatnya, dan setiap bantuannya akan selalu kami kenang,” ujar perwakilan masyarakat Talaud dengan mata berkaca-kaca.
“Semoga Pak Arie tetap sehat dan sukses di Bitung. Bawalah semangat humanis yang sama ke sana. Dan untuk Kapolres Talaud yang baru, mohon lanjutkan warisan kebaikan yang telah Pak Arie tanamkan. Jangan biarkan api persaudaraan yang telah beliau nyalakan padam.”
Kini, Kota Bitung—yang dikenal sebagai kota damai dan toleran—bersiap menyambut pemimpin baru yang telah teruji kelembutan hatinya. Dengan rekam jejak yang begitu kaya akan nilai-nilai kemanusiaan, AKBP Arie Sulistyo Nugroho diharapkan dapat melanjutkan tradisi good governance yang berpihak pada rakyat kecil.
Mutasi ini bukan akhir dari sebuah pengabdian, melainkan awal dari babak baru di mana nilai-nilai kepemimpinan humanis dari kepulauan terdepan dibawa ke jantung maritim Sulawesi Utara.
Bagi masyarakat nasional, kisah AKBP Arie adalah bukti nyata bahwa Polri mampu menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang sesungguhnya—tidak hanya di atas kertas, tetapi di dalam hati rakyat yang dilayaninya.
( Muhamad )





















