TOLITOLI //Tintapos.com// – Proses Kerja Sama Operasional (KSO) antara PT Esaputlii Prakarsa Utama dan PT Maxmar mulai menjadi perhatian para pekerja. Di tengah berlangsungnya tahapan kerja sama tersebut, satu pertanyaan yang hingga kini belum terjawab adalah bagaimana nasib karyawan yang selama ini menjadi bagian dari operasional perusahaan.
Ketidakpastian itu semakin terasa setelah sosialisasi yang digelar di Lingadan pada Kamis (18/6/2026). Dalam pertemuan tersebut, pihak PT Maxmar memaparkan rencana operasional perusahaan sekaligus membuka peluang bagi karyawan PT Esaputlii Prakarsa Utama untuk bergabung. Namun, kesempatan tersebut tidak serta-merta menjamin seluruh pekerja dapat diterima.
Perwakilan perusahaan menjelaskan bahwa kebutuhan tenaga kerja akan disesuaikan dengan struktur dan kebutuhan operasional PT Maxmar. Artinya, tidak semua karyawan yang saat ini bekerja di bawah PT Esaputlii Prakarsa Utama akan otomatis melanjutkan pekerjaan mereka di perusahaan baru yang terlibat dalam kerja sama tersebut.
Selain itu, para pekerja yang berminat bergabung juga diwajibkan mengikuti proses seleksi kembali. Tahapan tersebut mencakup wawancara dan penilaian sesuai standar yang ditetapkan perusahaan.
Kondisi ini menimbulkan beragam respons dari para pekerja. Sebagian mengaku memahami bahwa setiap perusahaan memiliki kebijakan tersendiri dalam menentukan kebutuhan sumber daya manusia. Namun di sisi lain, mereka berharap adanya kepastian yang lebih jelas mengenai masa depan pekerjaan mereka.
Bagi para pekerja, persoalan ini tidak sekadar menyangkut perpindahan perusahaan atau perubahan sistem operasional. Lebih dari itu, ketidakjelasan status kerja dinilai dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi keluarga yang selama ini bergantung pada penghasilan dari perusahaan.
Seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan resmi yang memberikan kepastian mengenai langkah yang harus diambil para pekerja.
Menurutnya, informasi yang diterima dalam sosialisasi masih bersifat umum dan belum menjawab pertanyaan utama yang menjadi kekhawatiran banyak karyawan.
“Kami belum mendapatkan kepastian apakah tetap bekerja, harus mengikuti seleksi ulang, atau seperti apa mekanismenya nanti. Karena itu, banyak teman-teman masih menunggu keputusan resmi dari manajemen pusat,” ujarnya.
Karyawan lainnya menilai bahwa komunikasi yang terbuka sangat dibutuhkan dalam situasi seperti sekarang. Menurutnya, informasi yang jelas dapat membantu pekerja mempersiapkan diri sekaligus mengurangi keresahan yang mulai berkembang di lingkungan kerja.
Ia berharap setiap kebijakan yang diambil perusahaan nantinya tetap memperhatikan kontribusi para pekerja yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri dan membantu jalannya operasional perusahaan.
“Kami berharap ada solusi yang adil. Jangan sampai perubahan sistem ini justru membuat pekerja kehilangan kepastian hidup. Yang paling penting adalah hak-hak karyawan tetap dihormati dan dilindungi,” katanya.
Di tengah dinamika tersebut, para pekerja berharap perusahaan segera menyampaikan keputusan resmi agar tidak muncul berbagai spekulasi yang dapat memengaruhi produktivitas kerja maupun kondisi psikologis karyawan.
Transparansi dinilai menjadi kunci penting dalam menjaga hubungan baik antara perusahaan dan tenaga kerja. Kepastian informasi juga dianggap penting untuk memastikan proses transisi berjalan lancar tanpa menimbulkan konflik maupun kesalahpahaman.
Hingga saat ini, manajemen pusat PT Esaputlii Prakarsa Utama belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait status hubungan kerja para karyawan dalam proses KSO dengan PT Maxmar. Akibatnya, ratusan pekerja masih berada dalam posisi menunggu sambil berharap keputusan yang diambil nantinya dapat memberikan kepastian serta perlindungan terhadap hak-hak mereka.
Bagi para pekerja, kepastian tersebut bukan hanya soal pekerjaan, melainkan juga tentang keberlanjutan kehidupan keluarga dan masa depan yang selama ini mereka bangun melalui pengabdian di perusahaan. Oleh karena itu, mereka berharap proses kerja sama operasional ini dapat menghasilkan keputusan yang tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga memberikan rasa aman bagi seluruh tenaga kerja yang terdampak





















