Sikap Gubernur NTB Tak Lantik Kakak Jadi Pelajaran: Mengapa Kota Bima Masih Izinkan Jabatan Strategis Dikuasai Kerabat?

- Penulis

Minggu, 5 Juli 2026 - 05:36

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NTB–//Tintapos.com//-Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal yang memilih tidak melantik kakak kandungnya sebagai Inspektur Provinsi NTB meski meraih nilai tertinggi dalam seleksi terbuka, kini menjadi pembanding tajam atas praktik penataan pejabat di lingkungan Sekretariat Daerah Kota Bima. Langkah tersebut diambil semata-mata untuk menjaga integritas, menghindari persepsi nepotisme, dan menjamin bebasnya birokrasi dari benturan kepentingan—prinsip yang justru tampak diabaikan di tingkat pemerintahan kota .

Saat dilantiknya sejumlah pejabat eselon II di lingkungan Pemprov NTB beberapa waktu lalu, Gubernur Iqbal menegaskan bahwa meski aturan memberi ruang memilih salah satu dari tiga calon teratas, pertimbangan utamanya adalah menjaga kepercayaan publik. Posisi Inspektur yang memiliki tugas mengawasi seluruh jalannya pemerintahan, termasuk kinerja pimpinan daerah, dinilai tidak tepat jika diisi oleh kerabat dekat sekalipun memiliki kemampuan memadai. “Kami ingin memastikan tidak ada keraguan sedikit pun atas objektivitas pengawasan yang dijalankan,” ujarnya saat itu.

Keputusan ini menjadi kontras dengan kondisi di Kota Bima, di mana hampir seluruh jabatan strategis di lingkungan Sekretariat Daerah—mulai dari bagian umum, hubungan masyarakat, ekonomi, pengadaan barang dan jasa, hingga hukum—didominasi oleh kerabat dekat pimpinan daerah. Sementara sisa posisi yang tersedia sebagian besar diisi oleh unsur pendukung politik. Posisi-posisi tersebut justru memiliki peran sangat vital dalam pengelolaan anggaran, penyusunan kebijakan, hingga proses pengawasan internal.

Menurut prinsip yang dipegang teguh oleh Gubernur NTB, jabatan yang berkaitan dengan pengawasan, pengelolaan keuangan, dan pengambilan keputusan strategis adalah posisi yang paling rentan benturan kepentingan. Seharusnya posisi inilah yang paling ketat dijaga dari unsur kedekatan pribadi atau afiliasi politik, bukan sebaliknya dijadikan ruang penempatan kerabat .

Baca Juga:  Hari Pertama Aktif Kerja Pascalibur, Kunjungan Masyarakat ke Mal Pelayanan Publik (MPP) Kutai Kartanegara (Kukar) Langsung Membludak

Praktik di Kota Bima jelas menyimpang dari semangat sistem meritokrasi yang diamanatkan undang-undang. Pengisian jabatan seharusnya murni didasarkan pada kompetensi, rekam jejak kinerja, dan kesetaraan kesempatan bagi seluruh aparatur sipil negara. Kondisi saat ini berisiko menurunkan objektivitas keputusan, menghambat jalannya pengawasan, serta mematikan semangat kerja aparatur yang berkemampuan namun tidak memiliki akses kedekatan khusus.

Masyarakat Kota Bima patut bertanya: jika di tingkat provinsi pimpinan berani menolak orang yang paling berhak secara nilai demi menjaga integritas, mengapa di tingkat kota justru sebaliknya? Apakah aturan main yang berlaku berbeda? Atau justru kesadaran akan pentingnya kepercayaan publik belum tumbuh sama kuatnya?

Langkah yang diambil Gubernur NTB seharusnya menjadi cermin bagi seluruh pemimpin daerah di wilayah ini. Birokrasi bukan milik pribadi atau kelompok, melainkan amanah yang dijalankan untuk kepentingan seluruh rakyat. Masyarakat Kota Bima kini menanti langkah perbaikan serupa: pembenahan penempatan pejabat yang benar-benar bersih, adil, dan bebas dari bayang-bayang kepentingan pribadi maupun kelompok.

Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kota Bima terkait perbandingan sikap ini maupun isu penempatan pejabat di lingkungan Sekretariat Daerah.

Red.

Berita Terkait

Genset Mini, Rampok Miliaran: Mega Proyek RSUD, DAK 170 Miliar Di duga Seret Petinggi Daerah
Lapak Baru Berdiri di Batang Arau, Padahal Ada Plang Larangan Berjualan, Kadis Pariwisata Disorot Masyarakat
PORTAL JALAN MENUJU TANAH MAS AKHIRNYA DIBUKA, AKSES MOBIL DAMKAR SEMPAT TERHAMBAT
Polsek Cerenti Tertibkan 8 Rakit PETI di Sungai Batang Kuantan, Kecamatan Inuman
Kejanggalan Proyek di Matakando: Lokasi Berubah, Lurah Tak Tahu, Kabid PUPR: “Sudah Usulan Warga”
Duduk Bersama Warga, Kapolsek Kuantan Mudik AKP Andra Nosa S, H., M. H Garansi Kamtibmas Aman dan Kondusif
Polsek Singingi Tindak Lanjut Pengaduan Masyarakat Melalui Layanan Kepolisian 110, Dua Rakit Peti Ditindak
Pererat Silaturahmi dan Serap Aspirasi Warga, Kapolsek Kuantan Hilir Gelar Kegiatan Kumpul Bersama Masyarakat
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:00

Genset Mini, Rampok Miliaran: Mega Proyek RSUD, DAK 170 Miliar Di duga Seret Petinggi Daerah

Minggu, 18 Oktober 2026 - 03:27

DIDUGA PEMOTONGAN DANA P3-TGAI 2026 DI BIMA-DOMPU, LP2SDA SIAP LAPORKAN KE KEJAKSAAN AGUNG

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 05:31

Muklisin Dorong Sekolah Rakyat Jadi Jalan Anak Kuansing Raih Masa Depan Lebih Baik

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:29

WALAU TAK SEBESAR HARAPAN, TAPI PENUH KETULUSAN — BPJS KESEHATAN BIMA SALURKAN BANTUAN PEMUGARAN MUSHOLLAH RIADU SHOALIHIN

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:50

BAPEKA-NTB BUKA KAIN KAFAN ASET NEGARA YANG HILANG DI BIMA — MAHKAMAH AGUNG & KEJATI DIY SIAP TINDAK

Kamis, 15 Oktober 2026 - 11:29

BAPEMPERDA DPRD KOTA BIMA GELAR RAPAT KERJA, BAHAS RAPERDA PRAKARSA DPRD TENTANG KETERTIBAN UMUM DAN KETENTERAMAN MASYARAKAT

Senin, 12 Oktober 2026 - 05:53

Aroma Korupsi Pengadaan Genset Rp.4,8 Miliar RSUD Kota bima: Aktifis Laporkan ke Kejari Bima.

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:24

SKANDAL RSUD KOTA BIMA: Pengadaan Genset 4,8 Miliar Diduga “MARK’ UP” Dan Libatkan Perusahaan cangkang.!!

Berita Terbaru