KOTA BIMA
//Tintapos.com//
JUMAT, 28 AGUSTUS 2026
Sejarah sering kali mengulang dirinya, dan peringatan Allah datang dalam bentuk yang sama namun di negeri yang berbeda. Bencana banjir bandang dahsyat yang melanda wilayah Rasuwa, Nepal, pada Rabu, 26 Agustus 2026, menjadi bukti nyata bahwa hukum Allah tidak berubah — ketika kezaliman merajalela, rumah-Nya dirusak, dan hamba-Nya dianiaya, peringatan bisa datang dari arah yang tidak disangka, dengan kekuatan yang tidak bisa ditahan oleh siapa pun.
Pada zaman Nabi Nuh, kejahatan dan kemaksiatan sudah menutupi seluruh muka bumi. Manusia tidak hanya menyembah berhala, tetapi juga menindas sesama, menyakiti orang lemah, dan menolak kebenaran. Nabi Nuh berdakwah ratusan tahun, namun kaumnya tidak hanya menolak — mereka juga menghina, menyakiti, dan menindas orang-orang yang beriman. Ketika kezaliman sudah tidak ada lagi yang mampu menghentikannya, Allah memerintahkan Nabi Nuh membangun bahtera. Kemudian pintu langit dibuka, mata air bumi memancar, dan air datang menenggelamkan kaum yang melampaui batas. Banjir itu datang bukan tanpa alasan — ia datang karena kezaliman tidak dihentikan, kebenaran ditindas, dan orang beriman disakiti.
Persis seperti pola yang terulang kembali, sebelum bencana melanda Nepal, negeri itu dilanda gelombang kebencian yang memilukan. Masjid-masjid diruntuhkan menggunakan alat berat, Al-Qur’an dibakar di tempat umum, dan kaum Muslim diusir secara paksa dari negeri tempat mereka lahir, tumbuh, dan beribadah. Rumah tempat nama Allah disembah dirusak, hamba-Nya dianiaya, dan kebencian dibiarkan merajalela tanpa dihentikan. Tindakan ini memicu keprihatinan luas di kalangan masyarakat dunia, namun sedikit yang menyangka bahwa peringatan Allah akan datang begitu cepat dan begitu dahsyat.
Pada tanggal 26 Agustus 2026, bencana besar melanda. Bongkahan es dan batu raksasa terlepas dari ketinggian sekitar 5.200 meter di Pegunungan Himalaya, longsor ke dasar lembah, lalu menumpuk dan membendung aliran Sungai Lhende. Bendungan alami itu kemudian jebol secara tiba-tiba, melepaskan volume air yang sangat besar sekaligus bercampur lumpur dan material berat. Air deras menerjang lembah dan kawasan Sungai Bhote Koshi dengan kekuatan luar biasa, menghanyutkan rumah, meruntuhkan bangunan, memutus jalan, dan merenggut nyawa ratusan orang. Getaran runtuhnya gletser itu bahkan terasa seperti gempa berkekuatan magnitudo 4,4 hingga 5,2.
Air datang begitu besar dan begitu cepat, seolah tidak ada benteng, tidak ada tembok, dan tidak ada kekuatan manusia yang mampu menahannya. Sama seperti pada zaman Nuh — air datang dari atas dan dari bawah, menutupi segala yang ada di bumi, tidak memandang siapa yang dilaluinya.
Keterkaitan makna antara dua peristiwa ini sangat jelas: pada masa Nuh, kezaliman terhadap orang beriman diikuti banjir. Di Nepal, setelah rumah Allah dibakar, Al-Qur’an dihina, dan hamba-Nya diusir, air datang dari puncak gunung tertinggi di bumi sebagai peringatan bahwa Allah tidak tidur dan tidak lalai.
Yang menjadi tanda kebesaran Allah adalah bahwa kaum Muslim yang diusir justru terselamatkan dari bencana seolah Allah memindahkan mereka dari tempat yang akan dihukum, menyelamatkan hamba-Nya dari kebinasaan. Mereka diusir dengan hina, namun Allah menyelamatkan mereka dari air yang menenggelamkan. Inilah pembelaan Allah yang sering datang dengan cara yang tidak disangka manusia.
Allah Maha Adil manusia sendirilah yang melampaui batas. Ketika manusia merusak tempat di mana nama-Nya disebut, menganiaya orang yang beriman, dan mengusir hamba-Nya hanya karena keyakinan mereka, maka peringatan-Nya bisa datang dari arah yang tidak disangka dari langit, dari bumi, atau dari puncak gunung yang runtuh. Tidak ada kekuatan manusia yang mampu menahan air ketika Allah memerintahkannya datang, sama seperti tidak ada kekuatan manusia yang mampu melindungi pelaku kezaliman dari pembalasan-Nya.
Red.




















